Tuesday, January 18, 2011

Inilah Asal Usul Api, Yang Mungkin Belum Kita Ketahui

Filled under:

Picture of Fire / Flame Texture - Free Pictures - FreeFoto.com

Api yang ada di dunia ini brasal dari api Neraka Jahanam. Alkisah, Allah menyuruh malaikat untuk mngambil api dari neraka jahanam guna memasukkan api tersebut ke bumi untuk di gunakan oleh manusia.


Saat malaikat itu sampai di neraka tersebut, langsung ia terkejut karena suasana di sana gelap gulita yang di sebabkan api dari neraka jhanam berwarna hitam pekat.

Setelah bertemu penjaga neraka & menyampaikan perintah-Nya. Penjaga neraka bertanya kepada mlaikat itu.

Penjaga : Sebesar apa api neraka jhanam itu yg mau kau ambil ?

Malaikat : Sebesar biji kurma saja !

Mendengar hal itu Penjaga berkata : Asal kau tahu kalau kau membawa api sebesar itu ke bumi, maka di bumi tidak kan ada khidupan.

Malaikat : kalau begitu setengahnya saja !

Penjaga : kalau kau membwa api sebsar itu, maka d bumi akan gersang & tumbuh.tumbuhan kan mati.

Malaikat kemudian berkata : kalau begitu terserah kau saja mau sebesar apa !

Lalu sang penjaga neraka memberi kepada malaikat suruhan itu api sebesar semut yang sangat kecil.

Itu pun tidak langsung di masukkan ke bumi tapi di dinginkan terlebih dahulu ke dalam 7 sumur slama 70 masa di akhirat ( 1 masa = 5 ribu tahun di bumi).

Warna api pun berangsur.angsur berubah dari warna hitam>>putih>>biru>> sampai akhirnya menjadi warna merah sperti skarang.

Siksaan di neraka jahanam yang paling ringanpun yaitu kita disuruh memakai sendal yang apabila kita memakainy, otak di dalam kepala langsung meleleh.
Di sana kita tidak hidup & juga tidak mati.

Semoga dengan mengetahui betapa dasyatnya siksaan di neraka jahanam, kita dapat menjaga sikap kita menjadi lebih baik. & Semoga kita tidak menjadi salah satu dari penghuni neraka manapun, apalagi di neraka jahanam.

Posted By Bagus Rizki3:42 PM

Sains Mengungkap [Lagi] Kebenaran Al-Qur'an!!

Filled under:

Bidang Ilmu Biologi
Pembungkusan Tulang oleh Otot

Sisi penting lain tentang informasi yang disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur'an adalah tahap-tahap pembentukan manusia dalam rahim ibu. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa dalam rahim ibu, mulanya tulang-tulang terbentuk, dan selanjutnya terbentuklah otot yang membungkus tulang-tulang ini.
"Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik" (Al Qur'an, 23:14)



Embriologi adalah cabang ilmu yang mempelajari perkembangan embrio dalam rahim ibu. Hingga akhir-akhir ini, para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan. Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang dilakukan dengan menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap bahwa pernyataan Al Qur'an adalah benar kata demi katanya.



Penelitian di tingkat mikroskopis ini menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu terjadi dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan di sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang ini.



Peristiwa ini digambarkan dalam sebuah terbitan ilmiah dengan kalimat berikut:
Dalam minggu ketujuh, rangka mulai tersebar ke seluruh tubuh dan tulang-tulang mencapai bentuknya yang kita kenal. Pada akhir minggu ketujuh dan selama minggu kedelapan, otot-otot menempati posisinya di sekeliling bentukan tulang. (Moore, Developing Human, 6. edition,1998.)
Singkatnya, tahap-tahap pembentukan manusia sebagaimana digambarkan dalam Al Qur'an, benar-benar sesuai dengan penemuan embriologi modern

Bidang Ilmu Astronomi

Posted By Bagus Rizki3:39 PM

Saturday, January 15, 2011

Temuan Mengejutkan...Bukti Ilmiah Mukjizat Nabi Membelah Bulan

Filled under:

Berbagai macam mukjizat telah diberikan Allah SWT kepada kekasihNya Rasullah Muhammad SAW, untuk memberi kebenaran atas Kerasulan yang disandangnya. Salah satu mukjizat dari Rasulullah Muhammad SAW, ialah “Membelah Bulan”. Sebagaimana hadits riwayat Abdullah bin Mas`ud Radhiyallahu’anhu berikut ini, ia berkata :
“Bulan terbelah menjadi dua pada masa Rasulullah SAW lalu Rasulullah SAW bersabda : Saksikanlah oleh kalian.” (Shahih Muslim No. 5010)


Hadist riwayat Anas RA, dia berkata :
“Penduduk Makkah meminta kepada Rasulullah SAW untuk diperlihatkan kepada mereka satu mukjizat (tanda kenabian), maka Rasulullah SAW memperlihatkan kepada mereka mukjizat terbelahnya bulan sebanyak dua kali.” (Shahih Muslim No. 5013)

Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah? Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut :

“Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur’an.”

Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya : “Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi “Telah dekat hari kiamat dan bulan pun telah terbelah” mengandung mukjizat secara ilmiah?”

Maka professor pun menjawabnya :
“Tidak, sebab kehebatan ilmiah dapat diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjangkaunya.

Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya.

Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah SAW, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu.

Akan tetapi, hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta’alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu”.

Dan setelah selesai Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdirilah seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata : “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan?”

Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab : “Dipersilahkan dengan senang hati.”

Daud Musa Pitkhok berkata :
“Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemahan makna-makna Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya, dan aku pun membawa terjemahan itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya :

“Telah dekat datangnya saat itu dan Telah terbelah bulan [1434]. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”. Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya[1435].” (QS. Al-Qamar : 1-3)

[1434] Yang dimaksud dengan saat di sini ialah terjadinya hari kiamat atau saat kehancuran kaum musyrikin, dan “terbelahnya bulan”, ialah suatu mukjizat nabi Muhammad SAW.

[1435] Maksudnya, bahwa segala urusan itu pasti berjalan sampai waktu yang Telah ditetapkan terjadinya, seperti: urusan Rasulullah dalam meninggikan kalimat Allah pasti sampai pada akhirnya yaitu kemenangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. sedang urusan orang yang mendustakannya pasti sampai pula pada akhirnya, yaitu kekalahan di dunia dan siksaan di akhirat.

Maka aku pun bergumam : “Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu???”

Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya, dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah-lah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasan hamba-Nya dalam pencarian kebenaran.

Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi hangat antara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa Amerika Serikat. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa.

Daripada itu, diantara diskusi hangat tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar.

Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata : “Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?”

Mereka pun menjawab : “Tidak! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun.”

Maka presenter itu pun bertanya : “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya?”

Mereka menjawab : “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali!”

Presenter pun bertanya : “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?”

Mereka menjawab : “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah dan terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka, kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin telah terjadi, kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali”.

Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan :
“Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin! Subhanallah.”

Posted By Bagus Rizki9:40 AM

Friday, January 14, 2011

Shalatnya Rasulullah saw

Filled under:

قال رسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

( صحيح البخاري )

Sabda Rasulullah saw : “Shalatlah kalian sebagaimana kalian lihat aku melakukan shalat” (Shahih Bukhari)


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ

Limpahan Puji Kehadirat Allah subhanahu wata'ala, Yang Maha Tunggal mengatur segala kejadian sepanjang waktu dan zaman, Maha Mengatur jumlah nafas hamba-hamba Nya, di beri izin untuk izin tinggal hidup di atas bumi Nya, di dalam jasad yang milik Nya, yang di cipta untuk Nya, diberikan kepada Ruh kepada hamba-hamba Nya ini, alat-alat multi sempurna untuk melewati kehidupan yang sementara dan fana menuju kehidupan yang kekal dan abadi, di berikanlah panca indra dan di berikanlah permukaan bumi beserta isinya, tiada lain agar hamba Nya meniti jalan menuju keridhaan Nya, dan hamba Nya menuju Cinta Nya, agar hamba Nya mencapai kasih sayang Ilahi, berlomba-lomba untuk dekat kehadirat Allah,

Allah subhanahu wata'ala berfirman :
“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah bukakan bagi Nya limpahan Rizqi dan penyelesaian dari apa-apa yang menyulitkannya, dan ia di berikan suatu hal yang mengembirakan dan mengagetkan, berupa kegembiraan dari Allah bagi hamba - hamba yang bertaqwa”

Seraya berfirman :
“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah jadikan permasalahan Nya lebih mudah”
Seraya berfirman :
“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah hapus dosa – dosanya dan Allah lipat gandakan jumlah pahala yang menjadi miliknya”

Demikianlah perbuatan Allah pada hamba – hamba Nya yang bertaqwa, siapa mereka ?
Mereka yang berusaha menjauhi dosa semampunya, dan berusaha menjalani perintah Allah semampunya, dan tentunya merekalah para pengikut Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Tiada seseorang di sebut Taqwa kecuali pengikut Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Imam Muttaqiin (Pemimpin orang – orang yang bertaqwa) Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Semoga Allah mengelompokanku dan kalian di dalam kelompok orang – orang yang bertaqwa, yang selalu di limpahkan rizqi dengan keluasan rizqi yang dhahir dan rizqi yang bathin dengan datangnya rizqi yang terkirakan dan yang tidak terkirakan dan juga penyelesaian atas segala kesulitan dan terhapus dari segala dosa dan di lipat gandakan pahala. Ya Allah …

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah,
Seraya berfirman :
“Barang siapa yang mendambakan balasan di dunia, sungguh Allah di sisinyalah balasan dunia dan akhirat, dan sungguh Allah itu Maha mendengar dan Maha melihat”

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah,
Didalam perkumpulan yang luhur ini, di bulan agung ini, di malam-malam mulia dan suci ini, di bulan Rajab yang di namai bulan mulia dari pada satu bulan haram, bulan yang di muliakan oleh Allah, dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam memperbanyak ibadah di bulan ini, dan para imam-imam kita dan para Sahabat Rasul shallallahu 'alaihi wasallam kita mereka memperbanyak Istighfar di bulan Rajab dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam memperbanyak puasa di bulan Rajab, karena inilah salah satu di bulan haram, karena bulan haram adalah bulan yang di muliakan oleh Allah dan Rasul Nya.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah,
Aku dan kalian sebagai tamu Allah di bulan Rajab ini, sampai dan hadir di majelis dzikir dan Majelis Ta’lim dan Shalawat ini, di majelis Dakwah ini tentunya dengan jamuan yang lebih karena kita sudah berada di majelis ini sebagai tamu Allah, juga sebagai tamu Allah di bulan Rajab dan pada hakikatnya manusia itu adalah tamu Allah pada setiap detik hidupnya, selama ia masih hidup ia adalah tamu Allah, ia di jamu oleh Allah, maka fahamilah Shahibul bait, fahamilah siapa yang kita kunjungi yaitu Rabbul’alamin dalam setiap nafas kita karena setiap nafas kita hakikatnya kita tamu Ilahi di bumi Nya, karena kita di bumi yang milik Allah, kita hidup dengan jasad yang kita tidak membeli dan tidak menciptanya semua dari Allah, maka kita adalah tamu, dan tamu termuliakan bagi yang memahaminya.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah,
Kalau kita tau siapa yang sedang kita kunjungi dalam kehidupan ini, yaitu Rabbul’alamin subhanahu wata'ala, yang kita kunjungi dalam setiap nafas kita, maka kita akan memahami bagaimana adab kesopanan kita berada dihadapan Tuan Rumah Maha Raja alam semesta ini.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah, Tentunya kalau kita faham kalau kita ini berada di suatu Istana kemegahan Rabbul’alamin di dalam kerajaan Allah subhanahu wata'ala, hendaknya kita membenahi sikap kita dengan Sang pemilik jasad kita dan Sang Pemilik bumi kita dan Sang pemilik kehidupan kita dan Sang pemilik dunia dan akhirat kita, dan betapa beruntungnya jiwa yang selalu berpadu, pemikirannya dengan rahasia keluhuran Ilahi.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah,
Allah telah berfirman :
“diantara orang – orang itu ada yang menghendaki balasan di dunia saja atas amalan pahala ibadahnya namun Allah memiliki balasan bukan hanya diakhirat saja tapi di dunia dan di akhirat”

demikian Allah menjelaskan di dalam firman Surat Annisa :
“Dan Allah subhanahu wata'ala itu Maha Mendengar dan Maha Melihat”

Fahamlah kita jangan meminta akhirat saja, jangan minta dunia saja, minta dunia dan akhirat, karena Allah telah mengatakannya bahwa balasan di dunia dan akhirat milik Ku.
Allah Maha Mendengar, Maha melihat, Maha Mendengar dengan pendengaran yang bukan dengan telinga seperti makhluk, makhluk hanya mendengar suara, tetapi Allah mendengar getaran perasaan, Allah melihat getaran lintasan pemikiran.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Dan setiap waktu dan saat Allah selalu mendengar dan melihat.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
namun tabir kegelapan dosa didalam diri kita sering menutupi kita seakan-akan jauh dari Allah, seperti orang yang berada di dekat temannya namun ia menutup matanya, maka ia tidak melihat temannya, padahal temannya sudah di hadapannya,
“Allah itu lebih dekat kepada kita dari pada urat leher kita”
Maksudnya antara ruh dan jasad kita Allah lebih dekat lagi dari itu, Allah lebih mampu dari kedekatan jasad dengan ruh, karena Allah Yang Maha mampu memisahkan ruh dengan jasad, Allah yang Maha Menentukan setiap nafas kita, Allah Maha dekat bukan dengan sentuhan dan Allah juga jauh bukan tanpa perhitungan jarak tapi dengan kedekatan jiwa, karena jarak tidak bisa menempuh dan mencapai Rabbul’alamin, karena jarak hanya bisa mencapai alam cipta Allah, jarak dan tempat tidak bisa menjangkau Rabbul’alamin, pencipta semua waktu dan tempat.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikian agungnya Sang Maha Raja langit dan bumi dan Sang Maha Lembut,
Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wasallam melintas bersama para Sahabatnya lalu lewatlah seorang anak kecil, lantas Rasul shallallahu 'alaihi wasallam memanggil (berteriak mengangkat suara)

“apakah anak ini mempunya ibu?”
Maka keluarlah ibunya dan menangis mendekapnya dan menciuminya seraya berkata
“Ibni ibni…”
Maka para sahabat menangis, maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berkata :
(apa yang membuat kalian menangis?)
Para Sahabat berkata :
“Cinta ibu itu terhadap anaknya besar ya Rasulullah, kami terharu”
Maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
“Allah lebih berkasih sayang kepada hamba – hamba Nya dari ibu itu kepada anaknya”

Saudara saudariku yang ku muliakan,
Diriwayatkan di dalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy mensyarahkan makna hadits ini bahwa :
Yang di maksud di dalam hadits ini oleh Rasul shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang wafat dalam keadaan bertaubat dari dosa – dosa besar, mereka yang bertaubat dalam keadaan Iman dan sempat bertaubat dari dosa – dosa besar, maka meraka itu tidak akan menyentuh api Neraka karena kelanjutan dari Hadits ini adalah (di jelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar)
Rasul bertanya kepada para Sahabat, ada kelanjutan riwayat lain :
“apakan kiranya si ibu yang sedang memeluk anaknya itu, mau melemparkan anaknya ke api ?”
Para Sahabat berkata :
Maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam menjawab :
“Allah lebih menyayangi hamba Nya dari pada ibu itu terhadap anaknya”
Menunjukkan orang yang wafat dengan iman dan sempat bertaubat dari dosa – dosa besar tidak akan di sentuhkan dari pada api neraka oleh Allah subhanahu wata'ala.

Ketika di riwayatkan di dalam riwayat Imam Thabrani dan riwayat lainnya di syarahkan oleh Al Imam Ibn Hajar di cantumkan di dalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari tentang hadits ini yang terkait dengan hadits ini bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wasallam lewat di dekat wanita, seorang wanita ibu – ibu yang berkata (sedang menyalahkan api unggun / kayu bakar sedang dinyalakan)
“Wahai Rasulullah….”
Rasul berkata :
“Labbaik wa sa’daik” iya apa yang bisa aku bantu Kata Rasul
“Apakah betul Allah melempar hambanya seperti aku melempar kayu ini ke kayu bakar????, hambanya yang beriman”
Maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam pun menunduk dan mengalirkan air mata menangis
Seraya bersabda :
“Demi Allah, tiadalah Allah menarukan hambanya di dalam api kecuali mereka yang berat dan malas mengucap Laailahailallah disaat wafatnya”

Hadirin hadirat demikian kelembutan Allah subhanahu wata'ala yang jauh lebih lemah lembut kepada kita dari pada ibunda kita.

Saudara saudariku yang kumuliakan,
jika kita memahami cinta Nya kepada kita, kita akan tenang di dunia dan akhirat, dan akan semakin tenang dengan cinta Rabbul’alamin subhanahu wata'ala,
namun Allah subhanahu wata'ala juga berfirman :

“barang kali kalian menyukai sesuatu tapi itu sebenarnya adalah buruk bagi kalian, barang kali kalian membenci sesuatu tapi itu baik bagi kalian, Allah Maha Mengetahui dan kalian tidak mengetahui”
Saudara saudariku yang ku muliakan,
Oleh sebab itu jangan buru – buru memvonis Allah subhanahu wata'ala dalam segala kejadian yang terjadi pada diri kita, saya mencari pekerjaan tidak dapat – dapat, sudah do’a sudah shalat Tahajjud, orang lain tidak shalat, tidak beriman malah cepat dapat pekerjaan, barang kali satu dua tahun, atau satu dua bulan penundaan akan membuat Allah melimpahkan yang jauh lebih luas di masa mendatang padamu, jangan sempat kita terjebak kejadian saat ini, karena kita tidak tau kejadian di hari esok.

Saudara saudariku yang kumuliakan,
Di riwayatkan di dalam Shahih Bukhari jika salah seorang bersedekah, ia mengumpulkan uang dan ingin mendapatkan Sedekah yang “shadaqah sirr” pahala Sedekah secara sembunyi – sembunyi, tidak di ketahui orang lain, ia pun mengumpulkan uang, lalu malam – malam ia menutup wajahnya dengan kain dia mencari orang yang berhak.

Lalu ia lihat ada seorang yang termenung di malam hari, diam saja, duduk saja, tidak bicara, tidak apa duduk saja di pinggir jalan,
“ini orang yang tidak mampu, tengah malam masih belum tidur, masih duduk di sini”
maka di lemparkannya uang itu pada orang itu dan ia pun pergi melarikan diri supaya orangnya tidak tau dia yang memberi, maka keesokan harinya dia sudah gembira, sudah sedekah dengan sedekah sembunyi – sembunyi, esok harinya dapat kabar gempar kampung karena seorang pencuri dapat harta di beri orang yang tidak di kenal, dia berkata :
Wahai Allah Bagi Mu segala puji, aku mau sedekah sembunyi – sembunyi, ternyata yang ku beri pencuri, pencuri sedang menunggu kesempatan untuk mencuri, menanti waktu untuk mencuri, di kira dia seorang Fuqara padahal ia pencuri,
ia berkata “berarti aku tidak akan berhenti, aku akan lanjut lagi”
ia pun mengumpulkan uang lagi, sudah terkumpul ia keluar lagi di malam hari.
Lantas ia melihat seorang tua renta, yang berjalan tertatih – tatih dengan tongkatnya, pelan – pelan jalannya tidak ada yang menemaninya, tidak ada yang mendampinginya,
“ini pasti orang susah”
dia lemparkan uang itu dalam sebuah kantong kepada orang tua itu dan dia pun lari pergi, keesokan harinya gempar orang terkaya di kampung itu, yang paling kikir dapat sedekah sembunyi – sembunyi semalam, maka ia pun berkata :
Wahai Allah Bagi Mu segala puji, aku jadi memberi orang yang paling kaya, yang paling kikir, tidak berguna sedekahku, yang pertama di berikan pada pencuri yang ke dua ternyata salah beri juga, di berikan kepada orang yang kaya dan paling kikir.

Lantas dia tidak kapok, tapi ketiga kalinya dia berbuat dia mencari wanita saja, dia lihat
“nah ini wanita sedang duduk”
maka di berikan padanya harta itu dan keesokan harinya, gempar lagi kampung itu, seorang pelacur mendapatkan sedekah yang sembunyi – sembunyi, ia katakan
“Yaa Rabb cukup 3 kali”
Wahai Allah sudah cukup ini, pencuri yang kuberi, yang kedua orang kaya paling kikir yang ketiga pelacur, sudah aku tidak mau bersedekah lagi.

Maka Allah subhanahu wata'ala tunjukan beberapa tahun kemudian, bahwa Allah subhanahu wata'ala membukakan kemuliaan dari uang halal yang ia berikan itu jauh lebih dari pada maksud yang dia kehendaki, ia inginkan beri kepada orang Fuqara tapi Allah sampaikan uang Nya pada pencuri, pencuri biasa makan uang haram apakah ia terus mencuri, malam itu pencuri itu dapat uang halal darinya, karena ia ingin sedekah sembunyi – sembunyi, hati – hati hadirin hadirat karena harta yang haram itu mempengaruhi tubuh kita, harta yang halal juga mempengaruhi, kalau harta yang halal mempengaruhi kita untuk ingin beribadah, maka pencuri itu mendapatkan itu dia bersyukur,
“Subhanallah, aku selama ini terus menerus mencuri sekarang Allah beri”
ia pun Taubat, tidak lama orang ini yang penyedekah pertama setelah sekian tahun dia dengar kabar ada seorang wali Allah yang wafat maka ia mendatangi jenazahnya,
“ini kalau tidak salah ini yang dulu ku beri, dulu pencuri” dia berkata “ini orang asal muasalnya dimana”
“dulu pencuri dia, gara – gara ia dapat uang di tengah malam, di beri oleh seorang penyedekah yang tidak ia kenal dia Taubat sampai dia menjadi Wali Allah subhanahu wata'ala”,
dia berkata “Subhanallah” Allah disampaikan derajatnya menjadi Wali Allah dari harta orang ini karena sedekahnya sembunyi – sembunyi dan ikhlas niatnya walaupun nyampainya kepada pencuri.

Yang kedua maka dia pun berkata,
“Wahai Allah, selesai janjiku dari yang pertama yaitu pencuri lalu bagaimana dengan orang tua yang kikir”
orang tua yang kikir itu tidak berapa lama ia membangun suatu rumah untuk Sedekah untuk yatim dan anak – anak miskin dan Fuqara, Kenapa ? karena ia jadi Taubat
Ia ingat “aku ini orang kaya disedekahi orang, karna apa ? karena aku kikir”
akhirnya ia pun bertaubat kepada Allah, ia bangun rumah Sedekah ia wakafkan, pahalanya orang ini dapat pada penyedekah pertama, demikian Dahsyatnya rahasia kemuliannya, dan ia pun berkata “Allah aku memahami yang ke dua, lalu bagaimana dengan yang ketiga”

Tidak ada jawaban, sudah hampir 30 tahun, lalu ia mendengar dua orang ulama, adik kakak, dua – duanya ulama yang Shaleh, dua – duanya pemuda, maka ia berkata
“aduh aku ingin kenal dengan dua pemuda ini”
sulit di jumpai, di ikuti muridnya, untuk berjumpa sulit, hebat sekali ini adik kakak ini, dua – duanya ulama, dua – duanya Shaleh, dua – duanya berhasil dan sukses, maka ia Tanya
“ini asal muasalnya anak ini ulama ini dari mana ? dua pemuda ini”
“ini dulu ibunya pelacur tapi gara – gara di beri sedekah oleh seorang yang sedekah sembunyi – sembunyi, Taubat lantas kemudian dia pakai uang itu untuk menyekolahkan dua anaknya ini untuk menjadi ulama, sampai menjadi ulama besar”

Hadirin hadirat maka orang ini sujud kepada Allah,
Rabbiy Kau tidak kecewakan hamba – hamba Mu, demikian kasih sayang Ilahi subhanahu wata'ala, ribuan orang yang bertaubat dari kedua anak itu mendapatkan pahalanya kepada si pemberi yang pertama, walaupun awalnya terlihat buruk namun akhirnya tapi Allah buat sedemikian indah.

Hadirin hadirat kita kembali kepada Hadits Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang tadi kita baca :

قال رسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي (صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw : “Shalatlah kalian sebagaimana kalian lihat aku melakukan shalat” (Shahih Bukhari)

Apa makna dari hadits ini ?
Sebenarnya hadits ini sering di bahas banyak oleh para ulama kita dan juga mereka banyak yang bertentangan di dalam permasalahan akidah dengan kita, hingga mereka mengakatakan
“jangan kamu shalat kalau kamu, kecuali kamu tau hadits – hadits shahihnya”
hal itu betul, namun tentunya kita mempunyai guru dan kita mempunya Madzhab, dan imam madzhab dari guru lebih berhak di panut dari pada melihat hanya dari buku atau dari internet saja, orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya, maka oleh sebab itu jadi tidak boleh baca dari buku, tentunya boleh baca buku apa saja boleh, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita mendapatkan masalah.

ini di Jakarta banyak kalau di Jakarta ustadz dan guru dalam tajwid, tauhid, fiqih, syariah, tasawwuf dan lainnya Jakarta penuh Alhamdulillah dengan ulama, namun saudara saudari kita yang diluar negri, diluar kota yang juga menyaksikan acara ini di streaming website siaran langsung www.majelisrasulullah.org barangkali sebagian diantaranya yang sulit menemui guru maka carilah guru walaupun diluar kota wilayahmu, paling tidak jumpai sebulan sekali, dua minggu sekali, tiga bulan sekali ada masalah – masalah tanyakan yang kau bacakan dari buku – buku yang kau tidak ngerti tanyakan, kalau tidak jumpa maka lewat telepon, lewat sms, lewat email gunakan itu semua untuk perantara agar kita tidak putus hubungan kita dengan Allah subhanahu wata'ala.

Karena hadits ini Rasul shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan :

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalat sebagaimana kalian lihat aku shalat bukan shalat seperti shalatku”

Kalau shalat seperti shalatku tidak ada satu pun yang mampu karena apa shalat seperti Rasul shallallahu 'alaihi wasallam tentunya siapa yang mampu karena manusia tentunya terbatas ia kalau jasad gerakannya bisa kita ikuti seperti gerakan perbuatannya Rasul shallallahu 'alaihi wasallam apakah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam shalat hanya dengan jasad? tentunya shalat ada hakikatnya dan ada dhahirnya, dhahirnya jasadnya, bathinnya adalah ruh dan sanubarinya tentunya ikut shalat.

Namun ketika Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”

maka shalatlah kalian semampu kalian untuk membenahi gerak geriknya seperti yang dilakukan oleh Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, ada yang rukunnya ada yang sunnahnya ada yang sunnah muakkadah nya, hal seperti itu meski kita ketahui kemudian melangkah menuju kedalaman makna hakikatnya yaitu rahasia hati dan ruh yang turut shalat bersama shalat kita, hati dan ruh kalau sudah ikut shalat dengan jasad kita maka jasad selesai shalat hati dan ruhnya tidak keluar dari shalatnya, karena terus dekat dengan Allah subhanahu wata'ala.

Di jelaskan oleh para imam kita para salafus shaleh ketika ditanyakan apakah hati itu ada bersujud kepada Allah subhanahu wata'ala, apakah hati itu bersujud kepada Allah subhanahu wata'ala, maksudnya disaat hati itu tunduk 100% kepada Allah maka menjawablah gurunya,
“hati itu jika sudah sujud tidak akan pernah lagi mengangkat berdiri dari sujudnya”

beda dengan jasad, kalau jasad ada lelahnya kalau hati sudah kenal sujud pada Allah tidak akan mau lagi berubah posisi untuk kecuali terus sujud dan tunduk kepada Allah dengan makna sujud disini bukan sujud dengan gerakan, maksudnya sujud itu hatinya tapi hatinya tunduk kepada Allah subhanahu wata'ala, kalau sudah hatinya tunduk pada Allah subhanahu wata'ala ia akan terus ketagihan dan tidak mau lagi untuk mengenal daripada rahasia kelembutan yang selain dari Allah subhanahu wata'ala, sudah asyik dengan Allah subhanahu wata'ala akan terus sujud kepada Allah subhanahu wata'ala merendahkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala ia sudah menikmati samuderanya didalam merendahkan diri dihadirat penciptanya, ia sudah rasakan lezatnya, ia tidak merasakan lezat dengan mahkluk – mahkluk Nya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Inilah yang ingin saya sampaikan dari pensyarahan hadits ini bahwa kalau secara jasadiyah kita punya banyak guru dan pengetahuan ada buku tuntunan shalat juga ada itu sudah cukup didalam dasar – dasar shalat kita yang benar rukun shalatnya, syarat sah nya dan yang lainnya itu sudah ada rukun wudhu dalam buku tuntunan shalat itu tidak cukup untuk dasar untuk selanjutnya ada guru yang bisa ditanyakan tapi yang perlu kita tekankan dalam majelis ini adalah yang jarang diperhatikan orang adalah shalat hati dan ruhnya untuk di ikut sertakan disaat kita shalat, disaat kita shalat hati dan ruh kita ikut shalat, jangan sampai hati dan ruh kita diluar shalat saat kita shalat layaknya selesai shalat jasad kita, hati dan ruh kita tetap shalat kepada Allah subhanahu wata'ala namun malah kita sebaliknya jasad kita shalat ruh dan hati kita pun tidak shalat kepada Allah subhanahu wata'ala, orang yang shalat hati dan ruhnya kepada Allah subhanahu wata'ala ia terbuka baginya rahasia kemuliaan shalat ia sedang berhadapan dengan Rabbul alamin ketika ia takbiratul ihram “Allahu Akbar” ia sudah berada di hadirat Allah subhanahu wata'ala dengan ruh dan sanubarinya walau jasadnya hanya menghadap kiblat saja, jasadnya bergerak dengan ucapan dan dzikir dan doa yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang itu didalami oleh ruh dan sanubarinya setiap kalimat huruf dan ucapannya sehingga ia mencapai rahasia – rahasia keluhuran yang terus semakin luhur
yang ada awalnya tapi tiada pernah ada akhirnya rahasia keluhuran kehidupan yang membuat kita tenang didunia dan di akhirat maka warisilah shalatnya Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Sebagaimana sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam :
“shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”

kita mempunyai sanad dari hadits ini, sanad yang bersambung pada Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w pria pertama, pemuda pertama yang melihat shalatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mulai melakukan shalat sebelum beliau hijrah, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam melakukan Shalat yang pertama kali melihatnya Sayyidatuna Khadijah radhiyallahu'anhum istrinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,
“ini Rasul berbuat seperti ini, aneh bergerak seperti ini, ada apa ini suami ku berbuat seperti ini”
yang kedua yang melihatnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w dan kemudian dilanjutkan para kerabat masuklah islam Sayyidatuna Khadijah dan menyusul Sayyidina Ali lalu menyusul Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq radhiyallahu'anhum.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
kita mempunyai sanad tentang hadits :

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

kepada Sayyidina Ali bin abi Thalib dari guru kita, dari guru mulia kita, dari guru beliau sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw yang memandang shalatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sanad kemuliaan shalat ini saya ijazahkan kepada hadirin hadirat hingga setiap kali shalat kita sudah bersambung sanadnya dengan shalatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam secara ruhiyah, tinggalah secara sanubarimu dan jasadmu ikuti dan pelajari dan dalami tapi secara ruhiyah shalat kita silsilahnya rantainya sudah bersambung dengan shalatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”
Sayyidina Ali melihat shalat beliau para sahabat melihat lalu para tabi’iin melihat shalatnya Sayyidina Ali, shalatnya para sahabat demikian para tabi’ tabi’iin demikian selanjutnya sampai saat ini melihat gurunya melakukan shalat, seperti itu shalatnya, seperti itu rukunya, seperti itu sujudnya dan gurunya melihat gurunya demikian sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
“Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat”
Sanadnya sampai kepada kita, apa itu sanad?
Sanad adalah silsilah atau rantai yang menyambungkan kita dengan yang sebelum kita, hubungan, sanad adalah hubungan kalau secara bahasa sanad adalah sesuatu yang terkait kepada sesuatu yang lain atau sesuatu yang bertumpu pada sesuatu yang lain, tapi didalam maknanya ini secara istilahi adalah bersambungnya ikatan bathin kita, bersambungnya ikatan perkenalan kita dengan orang lain, sebagian besar adalah guru-guru kita yaitu orang yang dijadikan guru sanadnya atau hadits, sanad hadits misalnya mengambil dari fulan, dari fulan, dari fulan itu salah satu contoh sanad dan sanad kita sanad keguruan dari guru saya, guru saya dari gurunya, dari gurunya, dari gurunya, sampai Rasul shallallahu 'alaihi wasallam atau dari saya bermadzhabkan syafi’i karena guru saya bermadzhab syafi’i, saya ikut guru saya, guru saya ikut guru nya mahdzabnya syafi’i terus sampai ke imam syafi’i itu sanad namanya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Itu hubungan ruh, hubungan sanubari kalau hubungan jasad bersalaman selesai itu lepas, tapi hubungan ruh bersalaman kalau sudah berpadu ruh akan bersama didunia dan diakhirat. Demikian sabda Rasul shallallahu 'alaihi wasallam :
Demikian Shahih bukhari
“Ruh adalah pasukan, bagaikan pasukan yang berkelompok – kelompok, jika sudah saling berkenalan, saling menyayangi menyukai, maka ruhnya pun bersama, jika sudah saling berselisih maka ruhnya pun berpisah” nah yang bersama ini akan bersama lagi di hari kiamat, yang berpisah disini akan berpisah lagi di hari kiamat kelak, nah… sanad dan ijazah silsilah ini menyambungkan kita kepada guru – guru kita yang terdahulu supaya kita bersama mereka walaupun tidak sehidup sezaman dengan para imam - imam dan dengan para sahabat dan dengan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam tapi ruh kita, kita sambungkan dengan mencintai mereka dengan mengikat sanad ini kepada mereka sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, hingga kita tidak berpisah dengan beliau di akhirat nanti.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikian banyak rahasia keluhuran yang dilimpahkan Allah subhanahu wata'ala didalam shalat dan rahasia kemuliaan shalat itu muncul dibulan rajab ini awal muasalnya untuk kita yaitu dimalam isra’ wal mi’raj beberapa malam yang akan datang, dan insya Allah berkumpul di monas dalam perayaan isra’ wal mi’raj Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dimalam naiknya Rasul shallallahu 'alaihi wasallam kehadiratullah dimalam itu kita berdzikir dengan ya Allah 1000 kali untuk memanggil Nama Rabbul’alamin, kenapa harus banyak – banyak ?
karena Allah berfirman :
“ingatlah kalian kepadaku maka aku akan ingat kepada kalian”

Allah subhanahu wata'ala berfirman :
“Perbanyaklah dzikir kepada Ku, perbanyaklah menyebut Nama Ku”
Demikian Allah subhanahu wata'ala memerintahkan kita dan semakin kita banyak menyebut Nama Allah maka kita semakin dekat kepada Allah, maka kita menyebutnya, berdzikir sebanyak 1000 kali bersama – sama dalam dzikir agung tepat dimalam 27 rajab dimalam mi’rajnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam menghadap Allah subhanahu wata'ala.
Kita berniat di malam itu kita juga dibagikan rahasia kemuliaan yang Allah tumpahkan pada Nabi dan para auliya dan shalihin dan shadiqin dari rahasia kemuliaan yang Allah limpah ruahkan dimalam mi’raj kita juga kebagian karena berdzikir kepada Allah.

Jakarta adalah ibu kota Negara muslimin terbesar didunia, Indonesia adalah Negeri muslimin terbesar didunia dan Jakarta adalah ibu kotanya dan Monas adalah jantungnya ibu kota, pertengahannya ibu kota ini dan ditempat itu kita berkumpul Alhamdulillah jika satu, dua orang, tapi Alhamdulillah semoga diatas satu juta yang berkumpul, jantung ibu kota Negara muslimin terbesar dimuka bumi berdzikir dengan dzikir Yaa Allahu Yaa Allah 1000 kali semoga cahaya dzikir itu membias kepada sisa kehidupan kita didunia dan diakhirat, selalu dalam keluhuran dan semoga cahayanya juga membias menerangi sekitar khususnya ibu kota dan juga bangsa kita dan seluruh barat dan timur yang kesemuanya berada didalam satu rantai dengan kita karena bersama sama muslimin muslimat dan ini negeri muslim terbesar didunia dan inilah ibu kotanya dan inilah jantung ibu kotanya yaitu Monas nanti tanggal 9 juli malam sabtu depan.

Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
saya tidak berpanjang lebar menyampaikan tausiyah ada dua hal yang ingin saya sampaikan :

Yang pertama adalah para saudara saudari yang ingin menjadi panitia atau crew di acara event besar daftarkan dirinya ke ustadz syukran atau ustadz Muhammad Qalby atau saudari aisyah najmatunnisa atau saudari maya untuk kaum wanita karena apa ? karena kita kekurangan crew, terus terang saja kita kekurangan crew untuk event besar kalau untuk event acara setiap malam sudah cukup tapi untuk event besar crew kita 360 orang, 1 juta yang mau diatur gimana caranya, kalau 500.00, 600.00, 100.000 juga tidak keatur 360 orang tapi Alhamdulillah acara aman, tertib dan terkendali, Alhamdulillah dengan keberkahan sakinah dari Allah subhanahu wata'ala, jadi kita kekurangan crew hadirin hadirat yang punya waktu itu tugasnya tidak panjang – panjang dari kira kira 2, 3 jam sebelum acara sampai kira kira 2, 3 jam selepas acara selesai setelah itu cuman ada pertemuan barang kali nanti malam kamis atau malam rabu di atur sama ustad syukron ada pertemuan nanti dengan saya crew yang mendaftarkan diri mudah mudahan bisa menjadi terlibat didalam pembenahan acara agung ini, supaya lebih aman, lebih tertib, dan lebih terkendali demikian yang pertama yang mau jadi crew rijal dan nisa, kaum wanita dan kaum pria.

Yang kedua pengumuman bahwa saya masih hidup ini saudara saudariku diluar menyebar omongan sms Habib Munzir wafat, insya Allah wafat semua kesusahannya. . . . (amiin)

Hadirin hadirat muncul orang yang iseng tapi akhirnya nyebar, nyebarnya sudah sampai kemana mana, saya dengar ustad Yusuf Mansyur sudah shalat ghaib di bandung, juga di banyuwangi sudah banyak yang shalat ghaib untuk saya, pengumuman saya masih hidup Alhamdulillah hadirin hadirat yang dimuliakan Allah saya bicara sampaikan kalau ada yang mengatakan saya wafat Alhamdulillah saya lihat sendiri Habib Munzir masih hidup juga yang di internet ini bukan siaran rekaman, ini siaran langsung lihat yang di Kuala lumpur, yang di jawa timur, yang di Banjarmasin yang dimana semuanya lihat saya sehat wal’afiat Alhamdulillah, malam selasa kemarin hanya sedikit demam, meriang dan lain sebagainya tapi malam ini dah sembuh, siap insya Allah untuk menjalankan tugas kita masing – masing membenahi bumi Jakarta menjadi kota Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kota kedamaian, kota dzikir, kota aman, kota tenang bukan kota narkoba, bukan kota miras, bukan kota zina, bukan kota kesulitan tapi kota dzikir, kota yang tenang dengan kedamaian amin Allahuma amiin.

Jadi pengumuman ini disampaikan saya maafkan orang yang melakukan itu dah biasa ini kalau mau ada event – event acara besar pasti ada fitnah aja bukan pasti lebih sering ada fitnah, ntar dibilang munzir gulam ahmad, dibilang pimpinan musyrik, dibilang majelis murtad, macam - macam cara mengucapkan fitnah itu hanya sekedar untuk menggagalkan event – event acara besar kita menggoyang hati jamaah, ini tidak mau tau dibilang sudah wafat orangnya, sudah pada shalat jenazah sebagian shalat ghaib.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Maka cara – cara seperti ini mungkin bisa berhasil kepada orang – orang yang niatnya tidak baik tapi kalau seandainya untuk niat yang baik Allah sudah janji :
“sungguh hamba – hamba Ku yang betul – betul ingin dekat pada Ku dan ikhlas dalam niatnya kau tidak punya kekuatan pada mereka wahai syaithan” kata Allah subhanahu wata'ala,

maka perbuatan mereka slalu membuat majunya Majelis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, makin banyak yang fitnah, makin maju Majelis Rasul shallallahu 'alaihi wasallam.

Hadirin hadirat,
bukan saya mengharapkan banyak yang fitnah, namun bagi para pemfitnah perbuatan kalian justru membuat perjuangan dakwah kami semakin maju bukan semakin mundur demi kemuliaan Allah subhanahu wata'ala yang berfirman :
“jika kalian menolong Allah, Allah akan menolong kalian dan menguatkan langkah kalian”

niat kita ikhlas untuk membangun generasi muda kita kembali pada keluhuran, dan kemuliaan maka Allah subhanahu wata'ala yang akan membantunya langsung dan menguatkan langkah kita.

Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Kita doakan para pendukung dakwah kita untuk diberi kemudahan oleh Allah subhanahu wata'ala.
Bapak Joni disini semoga dilimpahi keberkahan oleh Allah dan Rahmat para Habaib minal akramin semuanya dan juga Bapak komesaris besar Bapak Purwolelono beliau ini bareskrim mabes polri memberantas korupsi jadi banyak musuhnya, banyak yang tidak suka semoga Allah singkirkan segala kesulitannya, segala permasalahannya kalau sudah jujur banyak musuhnya, banyak yang tidak suka banyak yang fitnah dan lain sebagainnya, Allah cabut seluruh kesulitannya Allah gantikan dengan kemudahan amiin Allahuma Amiiin agar bisa terus tenang konsentrasi dalam tugasnya dan dalam perjuangannya bersama kita mensukseskan gerakan dakwah kedamaian ini.

Demikian hadirin hadirat yang saya sampaikan salam untuk semua saudara saudari ku ini serius ni masalah karena sudah masuk lebih 2000 sms ke contact person yang menelpon dan menanyakan ada yang nangis tentang kemangkatan saya katanya, ada yang shalat ghaib nanti saya mau tegur ustad yusuf mansyur kok sembarangan shalat ghaib saja tidak pake telepon tidak pake apa sembarangan shalat ghaib di bandung, ada – ada aja ustad Yusuf nih karena sering sms an dengan saya tapi barangkali saya ganti nomer beliau tidak tau nomer saya yang baru udah shalat ghaib disana belum jelas kabar muncul itu Subhanallah, dibanyuwangi udah shalat ghaib, kan lucu, jadi nanti kalau saya mau wafat saya kabari dulu supaya ada pengumuman.

Selepas ini kita baca qasidah penutup mengingat perjuangan dakwah Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan setelah itu baru doa penutup dan kalimat talqin,
demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, sampaikan pada teman – teman mu tenang aja semoga kita semua panjang umur, semua dilimpahi keberkahan, semua dilimpahi kedamaian, semua dilimpahi kemakmuran, semakin hari semakin indah, hidup kita indah, wafat kita indah, bangkit kita di yaumil qiyamah juga indah, kita berdzikir memanggil Nama Allah subhanahu wata'ala yang Maha luhur, bermunajat demi kesuksesan seluruh hajat kita dunia dan akhirat, dan kesuksesan acara kita tanggal 9 juli.

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله... لاَإلهَ إلَّاالله... لاَإلهَ إلَّاالله...

Seluruh hajatmu, seluruh niatmu, tenggelamkan dalam keagungan لاَإلهَ إلَّاالله

لاَإلهَ إلَّاالله... لاَإلهَ إلَّاالله... لاَإلهَ إلَّاالله... لاَ إلهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Posted By Bagus Rizki3:27 PM

Nabi saw Mi'raj Ke Langit

Filled under:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:
لَمَّا عُرِجَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِلَى السَّمَاءِ، قَالَ رسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَتَيْتُ عَلَى نَهَرٍ، حَافَتَاهُ قِبَابُ اللُّؤْلُؤِ، مُجَوَّفًا فَقُلْتُ مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ..؟، قَالَ هَذَا الْكَوْثَرُ

( صحيح البخاري )

Dari Anas ra berkata :
" Ketika nabi saw diangkat untuk Mikraj ke Langit, bersabda Rasulullah saw : aku telah mengunjungi sebuah sungai, yg dikelililingi kubah kubah Mutiara yg berongga rongga” ". ( Shahih Al Bukhari )


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ

Limpahan Puji Kehadirat Allah Maha Raja Tunggal dan Abadi, Maha Melimpahkan keindahan Dzat Nya, yang merupakan isyarat dengan penciptaan alam semesta, merupakan lambang yang menyeru hamba Nya untuk mendekat, kepada keridhaan, kepada pengampunan, kepada kesucian, kepada keluhuran, kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, dari yang Maha Tunggal Menguasai kerajaan dunia dan akhirat, Allah Maha penguasa dan Maha menguasai setiap kejadian, Maha Menawarkan kedekatan dan Cinta Nya kepada hamba-hamba Nya, dan Maha Menghibur hamba agar jangan risau ingin dekat dan putus asa dari Rahmat Nya, Dialah Allah, Yang telah menyeru para pendosa dengan Firman Nya :
“Katakanlah Wahai hamba-hamba Ku, yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, sungguh Allah Maha Mengampuni semua dosa, dan sungguh Allah Maha pengampun dan berkasih sayang” (QS Azzumar 53)
Diriwayatkan oleh Hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam Qadhi’iyad didalam kitabnya Assyifa, menukilkan riwayat ayat ini adalah :
Ketika Sang pembunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu'anhu pamannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu Wahsyi seorang budak yang memang sengaja membunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib radhiyallahu'anhum di dalam perang Uhud, di saat perang Uhud itu Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib di tombak dari kejauhan dari belakang tubuhnya hingga wafat dan Wahsyi tidak cukup hanya dengan itu, Wahsyi membelah dada Sayyidina Hamzah, mengeluarkan jantungnya, memotong hidung dan telinga dan bibir dan mencungkil ke dua matanya lantas di bawakan kepada Hindun.

Hadirin Hadirat, inilah dosanya Wahsyi orang yang telah membunuh pamannya Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, lalu mengeluarkan jantungnya dari dadanya, jenazah itu di robek dan di keluarkan jantungnya, di cungkil ke dua mata, bibir, hidung dan kedua telinganya dan di bawakan untuk tuannya.
Lalu di saat itu, disaat Fatah Makkah, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke Makkah dengan 100 ribu muslimin muslimat, Wahsyi melarikan diri, ia menjauhkan diri sampai kepantai, Istrinya datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :
“Wahai Rasul, suamiku mempunyai dosa yang sangat besar, kalau ia masuk Islam dan bertaubat, apakah suamiku di ampuni ?”
Maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berkata
“Allah memaafkan semua yang terdahulu jika orang mau bertaubat, masuk Islam Taubat sudah tidak ada lagi dosa”
Maka Istrinya pun menemui Suaminya di pantai, berkata Rasul shallallahu 'alaihi wasallam
“Allah akan mengampuni semua yang Lalu kalau kau mau bertaubat dan masuk Islam”
Wahsyi berkata pada Istrinya :
“kamu tahu bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wasallam tahu kamu istri saya?”
maka berkata Istrinya :
“tidak ku sampaikan”
“katakan dulu, mustahil aku diampuni”
Maka Istrinya balik lagi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :
“Ya Rasulullah, apakah betul semua dosa akan di ampuni??? suamiku ketakutan”
Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berkata :
“sudah kusampaikan beberapa waktu yang lalu, Allah memaafkan apa-apa yang terdahulu”
Maka Istrinya berkata :
“Ya Rasulullah, suamiku adalah Wahsyi yang telah membunuh pamanmu, merobek dadanya, mengeluarkan jantungnya, mencungkil kedua matanya, dan memotong bibir, hidung dan kedua telinganya”
Berubah wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau terdiam dan tidak menjawab, menunduk, Turunlah ayat :
“Katakan Wahai hamba-hambaku yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa, jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, Allah mengampuni semua dosa”
Rasul menyampaikannya kepada para Shahabat dan kepada Istrinya dan Istrinya menyampaikan kepada Suaminya datanglah Wahsyi masuk Islam, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berkata “kau wahsyi yang telah membunuh pamanku? Hamzah bin Abdul Muthallib”
“Betul wahai Rasul, aku telah berbuat ini dan itu”
“kumaafkan kesalahanmu, namun satu hal, jangan perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku setelah ini”
“kenapa wahai Rasulullah, bukankah kau sudah memaafkan aku?”
“aku sudah memaafkanmu, tapi kalau aku lihat wajahmu aku terbayang wajah Hamzah bin Abdul Muthallib yang rusak di hancurkan olehmu saat itu, aku teringat wajah Hamzah, makanya jangan muncul di hadapanku lagi”

Wahsyi kemudian terus kecewa di dalam hatinya sampai munculnya Musailamah Al Kaddzab musuhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata “nah ini tombak yang kugunakan untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthallib akan kugunakan juga untuk membunuh Musailamah Al Kadzab, barangkali sedikit bisa menebus dari pada kesalahan ku yang lalu”, namun kita lihat Sang Maha Lembut Rabbul’alamin berbuat kepada orang yang demikian, Wahsyi, Allah menjawab keputus asaannya dengan kasih sayang Allah yang berkata pada istrinya “mustahil aku di ampuni karena aku sudah berbuat dosa yang sangat besar, membunuh pamannya Rasul shallallahu 'alaihi wasallam” namun justru Allah memanggilnya untuk kembali kepada cintanya, “jangan putus asa dari kasih sayang Allah” kenalilah Tuhan mu yang Maha Lembut dan Maha Berkasih sayang, tiada yang lebih lembut dari Nya, tiada yang lebih santun dari Nya, Tiada yang lebih menerima dari Nya, tiada yang lebih mengerti dan memahami keadaan kita kecuali Allah Yang Mencipta kita dari tiada, Yang Mengetahui setiap Detik hari-hari kita yang lalu dan yang akan datang, yang memberi kita dengan pemberian tidak bisa di beri oleh makhluk satu sama lain, yang paling berkasih sayang lebih dari semua yang mencintai kita, Dialah Allah, yang telah mengutus hamba yang paling di Cintai Nya, Yang mempunyai sifat yang sangat lemah lembut Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Shahibul Akhlak Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Shahibul Isro’ Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Shahibul Mi’raj Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Pemimpin kita dan idola kita yang berlemah lembut dan tiada manusia yang lebih lembut dari Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam : “Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, sebaik baiknya manusia, budi pekerti dan tubuhnya”
dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam telah disampaikan oleh Allah subhanahu wata'ala:
“Sungguh engkau mempunyai akhlak yang agung”(QS Nun 4)

Dan firman Allah swt pula :
“Telah datang kepada kalian utusan dari bangsa kalian, berlemah lembut dan sangat peduli atas musibah yang menimpa kalian dan sangat berlemah lembut kepada hamba-hamba Allah yang beriman dialah Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam” (QS Attaubah 128)

Orang yang paling mencintai kita dari semua orang yang cinta pada kita Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, hadirin hadirat malam-malam agung ini, mengingat dan mengundang ruh dan jiwa kita mengingat peristiwa Mi’raj Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang naik ke langit dengan undangan tunggal dari Rabbul’alamin, tidak mengundang siapapun selain Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk datang menghadap, hingga Beliau shallallahu 'alaihi wasallam diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari:
“Datang kepadaku Jibril a.s dengan dua lainnya, lantas ia membelah dadaku dan mencuci dadaku dari mulai urat leherku sampai perutku lantas kemudian membawa Baki dari emas dan menuangkan Iman dan Hikmah kedalam sanubariku, lalu mengembalikan posisi tubuhku seperti semula, lalu membawaku Mi’raj menuju Masjidil Aqsha dan di Masjidil Aqshalah aku bertemu para Nabi dan Rasul lantas kemudian aku mulai naik melintas langit dunia”
kita fahami langit di dunia luasnya sudah tidak terhingga, manusia belum mencapai ujung batasnya karna terdapat padanya triliunan Galaksi dan belum terhitung triliunan lainya yang jarak Galaksi terdekatnya yaitu Andromeda sudah dua juta tahun kecepatan cahaya, bagaimana Galaksi yang terjauh dan itu semua baru dilangit dunia, karena Allah berfirman :
“kami jadikan di langit dunia itu bintang-bintang yang bercahaya, menunjukan semua planet-plenet itu baru di langit yang pertama” (QS Al Mulk 5)
Dan Rasul menembus batas langit yang pertama itu, bukan Galaksi yang terdekat tapi ke ujungnya, bersama Jibril As dalam beberapa kejap saja, jauh lebih cepat dari kecepatan cahaya, kalau kecepatan cahaya butuh waktu dua juta tahun menuju Galaksi yang terdekat (Andromeda), bagaimana Galaksi yang miliaran lainnya, gugusan-gugusan bintang yang berjumlah Miliyaran di angkasa ini kesemua jarak itu di tempuh dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari kecepatan cahaya, sampailah ke batas langit pertama,
Jibril memerintahkan pintu langit di buka untuk Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka berkata para malaikat penjaga pintu langit
“Siapa yang bersamamu wahai Jibril”
Jibril berkata :
“Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam”
“apakah ia sudah waktunya di utus dan bangkit?”
Berkata Jibril :
“Betul”
Maka Malaikatpun membuka pintu langit pertama dan berkata
“Selamat datang untuknya, semulia-mulia datang kelangit pertama telah datang”
Fahamlah kita dari ucapan ini, tidak ada satupun makhluk yang lebih mulia menginjak langit pertama melebihi Sayyidina Muahmmad shallallahu 'alaihi wasallam.

Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari :
“Selamat datang untuknya, semulia-mulia yang datang telah datang kelangit pertama”
Hadirin hadirat disaat itu berjumpa dengan Nabiyallah Adam a.s, yang mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dengan ucapan
“selamat datang wahai Nabi Yang Shaleh wahai keturunanku yang Shaleh”
Maka saat itu Rasul shallallahu 'alaihi wasallam melihat dikanan Nabi Adam jika dia melihat kekanan dia tertawa dan tersenyum jika dia melihat kekiri dia menangis,
Maka berkatalah Rasul kepada Jibril : “wahai Jibril kenapa Nabi Adam ini kalau melihat kekanan dia tersenyum, kalau lihat kekiri dia menangis?”
Berkatalah Jibril : “Kalau ia melihat kekanan, dia melihat arwah keturunannya yang Shaleh, kalau ia melihat kekiri ia melihat arwah keturunannya kufur dan jahat sehingga menangis jika melihat kekiri lantas beliau tidak melihat ke kanan semua manusia yang ada di permukaan bumi ini dan bangsa seluruh bangsa, afrika, amerika, Cina, Jepang, Arab dan seluruh bangsa yang ada di muka bumi ”
Ruh keturunannya yg beriman dan shalih itu membuat Nabi Adam a.s tersenyum pada mereka, wafat dalam keshalehan dan menangis melihat keturunannya yang wafat didalam hal yang mungkar.

Hadirin hadirat lalu Rasul shallallahu 'alaihi wasallam menembus langit yang ke dua dan bertemu dengan Nabi Isa bin Maryam a.s dan di sambut oleh Nabi Isa a.s demikian didalam Shahih Bukhari dengan ucapannya : Tiadalah malaikat membukakan pintu kecuali bertanya
“siapa yang bersamamu wahai Jibril hingga kau perintahkan membukakan pintu langit ke dua”
Jibril berkata :“Yang bersamaku Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam”
Maka iapun berkata : “Selamat datang untuk Sang Nabi, semulia mulia yang datang di langit ke dua telah datang”
Dibukalah pintu-pintu langit ke dua untuk menyambut Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan mereka pun menyambut gembira, para malaikat berdesakan menyambut kedatangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Demikian Riwayat Shahih Bukhari.
Lalu dia menembus langit yang ketiga Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dan berkatalah Jibril
“Bukakan seluruh pintu langit” Berkatalah Malaikat langit ke tiga : “Siapa Yang bersamamu wahai Jibril, sampai aku harus membukakan pintu langit ketiga ini” Jibril berkata : “Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam” maka berkata para malaikat dengan ucapan yang sama “apakah sudah di utus?” dijawab oleh Jibril as : “Sudah”
“Selamat datang untuknya semulia-mulia yang datang di pintu langit ke tiga”
Pintu langit ketiga dibuka dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bertemu dengan Nabiyallah Yusuf a.s., Lantas Beliau naik kelangit ke empat dengan sambutan yang sama di buka pintu langit ke empat untuk Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, disambut oleh para Malaikat dan para Nabi, di sambut di langit ke empat Oleh Nabi Idris a.s lantas di langit ke lima di sambut pula oleh para Nabi di langit keenam di sambut Oleh Nabiyallah Musa a.s, dalam satu Riwayat di dalam Shahih Bukhari didalam riwayat lainnya oleh Nabiyallah Ibrahim juga dalam Shahih Bukhari teriwayatkan, dalam langit ke tujuh berjumpa dengan Nabiyallah Musa dalam Riwayat lainnya Nabiyallah Ibahim a.s, lantas Rasul berkata setelah itu aku di naikkan ke Baitul Ma’mur yang tempatnya tepat berada diatas Ka’bah, lantas aku berkata pada Jibril, “apa ini wahai Jibril?”
Jibril berkata :
“ini Baitul Ma’mur, 70 ribu malaikat shalat setiap harinya dan keluar dari Baitul Ma’mur 70 ribu dan tidak pernah kembali lagi terus keluar 70 ribu tepat diatas ka’bah al Musyarrafah tempatnya”

Hadirin hadirat lantas Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dinaikan lagi sampai mendengar lauhul mahfud (ketentuan takdir) sampai ia mendengar yaitu keputusan-keputusan Allah subhanahu wata'ala lantas setelah itu di perintah untuk menghadap langsung kepada Allah subhanahu wata'ala, Jibril berhenti tidak meneruskan menemani lagi, karena dalam riwayat yang lainya Jibril berkata : “aku tidak mampu terus menghadap kepada Allah karena tidak di izinkan untuk menghadap, hanya engkau yang di izinkan untuk menghadap, kalau aku naik aku akan hancur terbakar dengan cahaya hijab, dari hijabnya Allah subhanahu wata'ala, cahaya dari 70 ribu tabir cahaya yang menutupi makhluk dengan Al Khaliq, jika sampai aku ke hijab itu aku akan terbakar” kata Jibril.
70 ribu tabir terbuka untuk Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari berjumpa dengan Allah subhanahu wata'ala, dan Allah subhanahu wata'ala telah berfirman :
“saat itu sangat dekat dia dengan Allah subhanahu wata'ala” (QS Annajm 8-9)
Diriwayatkah didalam Assyifa oleh Hujjatul Islam Al Qadhi’iyad alaihi rahmatullah bahwa di saat itu Rasul shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan :
“saat aku naik menuju Mi’raj aku melihat dilangit itu para malaikat gemuruh dengan dzikir dan tasbih dan warna dan bentuk yang belum pernah aku lihat di permukaan bumi ada warna seperti itu dan bentuk seperti itu dan kulihat hamparan surga itu bentangan tanahnya adalah Misk yang di keringkan, minyak wangi yang mengering dari indahnya di campur dengan berlian dan juga mutiara dan kemudian aku sampai ketika menembus Muntahal khalai’iq (batas akhir seluruh Makhluk) tidak lagi kudengar satu suarapun, sepi dan senyap, tidak ada lagi bentuk dan warna warni dan saat itu akupun mendengar satu suara :
b>“mendekat mendekat wahai Muhammad, tenangkan dirimu dari ketakutanmu wahai Muhammad”
maka beliau pun bersujud lalu berkata : Attahiyyatul Mubaarakaatusshalawaatutthayyibaatu lillah“ (Rahasia keluhuran, kebahagiaan, kemuliaan, keberkahan, milik Allah dan untuk Allah subhanahu wata'ala)
maka aku mendengar jawaban kata Rasul : Assalaamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh”, (Salam sejahtera wahai Nabi dan Rahmatnya Allah, dan keberkahannya)
Maka aku menjawab : “Assalaamu alaina, wa alaa ibaadillahisshaalihiin” (Salam sejahtera bagi kami (yaitu aku dan ummatku), dan hamba hamba yg shali (yaitu para nabi dan malaikat)
Beliau tidak mau mengambil rahasia salam sejahtera dari Allah sendiri, tapi ingin menyertakan Ummat Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dengan ucapan :
“salam sejahtera untuk kami dan para hamba Allah yang Shaleh yaitu para malaikat dan para Rasul dan Nabi”

Demikian sebagian ulama menjelaskan.
Hadirin hadirat maka di wajibkannya 50 waktu shalat, lantas beliau turun berjumpa dengan Nabiyallah Musa As,
“apa yang dikatakan Tuhanmu?”
“aku di berikan hadiah untuk membawa shalat 50 waktu”
“baliklah..!, bani Israil tidak mampu melakukan 50 waktu apalagi ummatmu, Ummatmu lebih pendek usianya, lebih lemah, lebih tidak berdaya, balik lagi minta kekurangan”
maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam kembali di kurangi 10 waktu, ketika meminta kekurangan seraya berkata :
“Wahai Allah sungguh Ummatku sudah sangat lemah dibanding ummat-ummat sebelumnya” Maka Allah subhanahu wata'ala menguranginya 10 menjadi 40 waktu,
Dia turun pada Nabiyallah Musa, Musa a.s berkata :
“apa yang kau dapat, di kurangi berapa?”
Rasul saw menjawab : “sepuluh”
“balik lagi, 40 waktu tidak mampu ummatmu, minta dikurangi lagi, minta keringanan”
Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam balik lagi pada Allah, dikurangkan lagi 10 hingga demikian sampai 5 waktu yaitu beliau bulak balik demi minta keringanan.

Didalam salah satu riwayat Nabiyallah Musa a.s itu ketika beliau a.s diriwayatkan didalam riwayat yang tsiqah (riwayat yang kuat), saat beliau mendengar firman Allah Swt di bukit Tursina maka itu bukan di langit, tapi di bukit Tursina saat ia mendengar firman Allah Swt di bukit Tursina, ia pun turun di bukit tursina ia menutup telingannya dari semua suara benda dan hewan karena ia tidak tahan mendengar buruknya suara benda dan hewan karena telah mendengar suara yang sangat begitu lembut dan indah mewakili firmannya Allah Swt tidak kuat mendengar suara air, suara burung, suara manusia, suara hewan menyakiti telinga Musa a.s, itu Nabiyallah Musa a.s di dunia maka bercahaya terlihat diwajah Nabiyallah Musa dilihat oleh istri dan anak-anaknya demikian terang benderang wajahmu Nabiyallah Musa As berkata : aku tadi mendapat firman Allah Swt, maka ketika di malam isra’ wal mi’raj beliau Musa a.s melihat Rasul Saw kembali kehadapan Allah Swt dengan wajah yang terang benderang bias dari cahaya Rabbul’alamin subhanahu wata'ala, Nabiyallah Musa a.s bahkan mencari alasan supaya Muhammad kembali lagi ke atas supaya bisa balik lagi, jumpa lagi, melihat lagi cahaya keindahan Allah, wajah Beliau bagaikan cermin yang mencerminkan cahaya keagungan Ilahi, balik lagi keatas, balik lagi hingga berkali kali Nabi Musa a. bisa menikmati bias dari cahaya keindahan Rabbul’alamin yang terlihat di wajah Sayyidina Muhammad Saw dan setelah itu Nabiyallah Musa pun ketika Rasul berkata :
“sudah cukup 5 waktu tadi sudah di beri pahala 50 waktu oleh Allah subhanahu wata'ala”
kembali lagi, Rasul berkata : “aku sudah malu, karna Allah Swt sudah berfirman : “ Aku sudah lewatkan dan sudah jalankan fardhu Ku untuk hamba-hamba Ku”(Shahih Bukhari)
yaitu Allah Swt telah menentukannya dan tidak lagi merubahnya 5 waktu, Allah Maha tahu shalat itu 5 waktu bukan 50 waktu, namun Allah ingin memberi isyarat kepada sang Nabi dan kepada ummat beliau yaitu kita berapa besarnya rindu kita kepada Allah Swt, berapa besarnya rindu Allah pada kita, Allah meminta 50 kali kita menghadap, kita 5 kali saja ada yang masih malas dan keberatan, berapa cinta Allah kepada kita, berapa cinta kita kepada Allah, Allah minta 50 kali, karena kita lemah kita diberi 5 kali tapi sama dengan 50 waktu seakan akan 50 kali menghadap Allah, inilah cinta nya Rabbul’alamin kepada mu.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
bahkan ketika Rasul saw turun melihat Musa a.s menangis lalu berkata :
“wahai jibril kenapa ia menangis” Jibril a.s berkata :
“karena ia menangisi, ia telah menyeru kepada Allah subhanahu wata'ala , inilah Nabi yang paling mulia melebihi ummatnya yang lebih banyak dari ummatku dan yang masuk surga dari ummatnya lebih banyak dari ummat ku”
maka menangis Nabiyallah Musa a.s berpisah dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karena Rasul shallallahu 'alaihi wasallam kembali membawakan kepada kita hadiah Ilahiyah berupa 5 waktu yang luhur, 5 waktu suci untuk menghadap Ilahi, jiwa dengan jiwa, ruh dengan ruh, sanubari menghadap Allah subhanahu wata'ala dengan saat ruh menghadap Allah subhanahu wata'ala walaupun jasad kita di bumi tapi ruh dan jiwa kita dan sanubari kita saat mulai kita takbiratul ihram hingga selesai shalat yaitu salam, mulai takbiratul ihram hingga salam saat itu kau terbuka hijab antara kau dengan Allah subhanahu wata'ala berhadapan dengan Rabbul’alamin, sebagaimana hadits Rasul shallallahu 'alaihi wasallam diriwayatkan didalam Shahih Bukhari :
“barang siapa yang melakukan shalat sungguh ia sedang berbicara dan bercakap cakap dan menghadap Allah subhanahu wata'ala”
Inniy wajjahtu wajhiya lilladziy fatharassamaawaati wal ardhi….dst “ sungguh kuhadapkan jiwaku, hatiku, wajah hati ku, kepada yang menciptakan langit dan bumi yaitu Allah subhanahu wata'ala..”

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikian rahasia keluhuran didalam mi’raj sekilas kita buka namun masih lagi banyak bagaikan samudera yang sangat luas yang tidak bisa diceritakan dengan lisan diantaranya adalah ucapan para penyair bahwa ketika Nabi Musa a.s menghadap Allah Swt di Bukit Tursina, maka disaat itu perintahkan kepada Musa :
“lepas kedua sandal mu wahai Musa kau berada di lembah yang suci” (QS Thaahaa 12)
maka disaat Rasul shallallahu 'alaihi wasallam Mi’raj naik ke hadhratullah tidak di perintah membuka kedua sandalnya, maka berkata para penyair dalam syairnya manakah yang lebih mulia sandal atau Jibril a.s, jibril tidak biasa naik kehadhratullah sandalnya Rasulullah naik ke hadhratullah subhanahu wata'ala, tentu jibril a.s lebih mulia dari sandal, sandal hanya terbuat dari kulit kambing tapi karena sandal terikat dengan kaki Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam walaupun terbuat dari kulit kambing karena terikat dengan kaki Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, demikian pakaian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam naik ke hadirat Allah shallallahu 'alaihi wasallam, tidak diperintah membuka kedua sandalnya sebagai tanda bahwa orang-orang yang terikat hatinya dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat dekat dengan Allah subhanahu wata'ala, Allah tidak perintahkan semua yang bersama Rasul untuk berpisah, bahkan sandalnya pun tidak diperintahkan dibuka menunjukkan lebih lagi hatinya yang terikat cinta pada Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, mereka mendapatkan rahasia kemuliaan isra’ wal mi’raj, seluruh ummat beliau buktinya, saat kita shalat kita mengulang kembali kalimat percakapan Allah dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam : yaitu : attahiyyatul Mubaarakaatu….dst.
kalimat itu kalimat percakapan antara Allah dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kau ucapkan didalam shalat, setiap shalat kita mengucapkannya, rahasia keluhuran isra’ wal mi’raj tumpah pada kita 5 kali setiap harinya ingin lebih lakukan lagi, ada shalat dhuha, ada shalat witir, ada shalat tahajjud, ada shalat shalat luhur lainnya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
demikian rahasia sekilas dari rahasia keluhuran shalat, tidaklah seseorang melewati hari-harinya di dalam shalat kecuali ia telah dalam keluhuran, diriwayatkan didalam shahih bukhari, sebagaimana hadits yang kita baca tadi, bahwa ketika Rasul shallallahu 'alaihi wasallam mi’rajh berkata Sayyidina Anas bin Malik ia melihat kubah-kubah yang terbuat dari mutiara yang ada danau disampingnya, kubah-kubah yang terbuat dari mutiara yang berlubang lubang dengan keindahan, maksudnya, berlubang lubang dengan indah mutiara mutiara itu, memberikan Tanya kepada jibril, “apa itu jibril ?”
berkata jibril “itu telaga al Kautsar”
itu telaga yang sangat indah Rasul berkata, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari atau riwayat lainnya bahwa jumlah cangkirnya sebanyak bintang di langit, cangkir-cangkir yang berada di telaga al-kautsar milik Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang Allah firmankan:
“Sungguh kami memberi kepadamu wahai Muhammad telaga al-kautsar, maka shalatlah kepada Allah, perbanyaklah doa dan berkurbanlah, dan orang-orang yang ingin mencelakaimu lah yang akan celaka dan terputus keturunanya” (QS Al Kautsar)
tiga ayat yang demikian singkat tapi mensiratkan betapa mulianya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang diberikan oleh Allah telaga al kautsar, didalam riwayat yang tsiqah (riwayat yang kuat) jika pecah salah satu pecahan kecil dari cangkir yang ada di telaga al kautsar jatuh kepermukaan bumi pecahan kecil itu lebih mahal dari seluruh perhiasan yang ada di muka bumi.

Hadirin hadirat bagaimana satu cangkir sempurna hati para sahabat dan para pecinta Rasul shallallahu 'alaihi wasallam mereka meminta kepada Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, ya Rasulullah saat kami nanti di telaga al kautsar, saat itu kami tidak mau meminum dari gelasnya, lalu bagaimana? ingin meminum langsung dari telapak tanganmu ya Rasulullah, telapak tangan mu lebih mulia dari seluruh cangkir yang ada di telaga al kautsar.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
demikian para sahabat Rasul, radhiyallahu'anhum, berkata Rasul shallallahu 'alaihi wasallam di akhir masa hidupnya seraya bersabda :
“akan kalian lihat nanti setelah aku wafat hal-hal yang tidak menyenangkan, bersabarlah sampai kalian berjumpa dengan ku di telaga haudh” (Shahih Bukhari)
para pecinta Rasul shallallahu 'alaihi wasallam ditunggu oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di telaga haudh, semoga aku dan kalian dikumpulkan oleh Allah ditelaga haudh, ditelaga al kautsar bersama Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, bersama para muhaajiriin dan anshar, ahlul badr, ahlul uhud.

Rabbiy kami bermunajat memanggil nama Mu yang Maha luhur, yang Maha membuka rahasia keluhuran dunia dan akhirat, yang Maha memiliki rahasia kebahagiaan dunia dan akhirat, Maha memiliki kunci kunci kemudahan dunia dan akhirat, yang Maha memiliki cahaya kebahagiaan, keluhuran, pengampunan, dan kasih sayang, wahai yang berkasih saying kepada kami lebih dari semua yang mencintai kami, wahai yang Maha baik kepada kami lebih dari semua yang baik kepada kami.

Masing-masing hadirin mempunyai hajjat, mempunyai doa, mempunyai kebutuhan, ada yang terjebak hutang, ada yang terjebak masalah, ada yang terjebak kesedihan, ada yang terjebak kesusahan, ada yang igin bekerja belum bekerja, ada yang ingin punya keturunan belum punya keturunan, ada yang ingin menikah belum menikah, masing masing dengan hajjatnya, Rabbiy Engkau Maha melihat saat ini kepada segenap sanubari kami, (Firman Allah swt) : “apakah mereka mengira tidak ada satupun yang Melihat” (QS Al Balad.7) melihat mereka apakah mereka tidak mengira bahwa Allah Swt yang Maha Tunggal selalu melihat mereka, “Bukankah telah kami berikan pada mereka penglihatan, kami berikan pada mereka ucapan, kami berikan pada mereka dua jalan (kebaikan dan keburukan) (QS Al Balad 8,9,10), mana yang ingin mereka pilih didalam kedekatan kasih sayang atau dalam kemurkaan Ku, semoga aku dan kalian dan semua keluarga, dan keturunan kita disatukan oleh Allah dan dipastikan oleh Allah didalam orang orang yang diridhoi Allah, orang orang yang dimuliakan Allah, orang orang yang dilimpahkan rahmat oleh Allah setiap waktu dan saat.

Rabbiy bimbing kami, maafkan dosa dosa kami, tidak kami bangkit dari tempat ini kecuali kau sudah menghapus seluruh dosa dosa kami, dan dosa ayah bunda kami, dan dosa kerabat dan saudara kami, suami kami dan istri kami, anak anak kami dan keluarga kami yang masih mempunyai dosa dan belum terampuni hingga malam ini ampunkan seluruh dosa mereka ya Rahman ya Rahim.
Mereka yang telah wafat dari ayah bunda, dari keluarga atau teman atau kerabat yang barangkali hingga malam ini masih terhimpit di alam kubur, bebaskan dari segala kesusahan ya Allah, dan mereka yang didalam kemuliaan didalam kubur, tambahkan kemuliaannya, dan mereka yang masih hidup Rabbiy linpahkan Rahmat dan keluhuran untuk mereka dan untuk kami semua.

Wahai Nama yang mengawali segala-galanya dari tiada menjadi ada maka adakanlah segala apa yang kami minta, Wahai yang Maha mampu memberi melebihi semua yang mampu memberi, Wahai yang telah berfirman kepada kami (dalam hadits qudsiy) : “Wahai hamba-hamba Ku, jika berkumpul dari kalian seluruh jin dan manusia yang pertama dan yang terakhir di suatu lapangan yang multi luas, dan masing-masing kalian mempunya hajat dan meminta kepada Ku, (ada yang minta 1000 Surga, ada yang minta 1000 Arsy dengan masing-masing permintaannya) kuberikan semua yang kalian minta, tidak berkurang dari yang kumiliki, kecuali seperti jarum yang terangkat dari tengah lautan samudera” (Shahih Muslim)

Wahai Allah Yang Maha Luhur, limpahkanlah kami lebih dari apa yang kami minta, limpahkan permintaan kami lebih dari apa yang kami harapkan, ampuni semua dosa yang kami ketahui dan yang tidak kami ketahui, kami titipkan masa lalu kami dalam samudera pengampunan Mu, kami titipkan masa depan kami kepada samudera gerbang kebahagiaan Mu,

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..

Limpahkan kedamaian, ketenangan, kebahagiaan, kesejukan dunia dan akhirat,
Kemakmuran Dunia dan akhirat,

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..

Kau terus memberi dan terus memberi, beribu-ribu anugerah Kau beri dalam sekali kami memanggil Nama Mu

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..

Wahsyi yang telah membunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib, menghancurkan badannya dan menghancurkan wajahnya, lari karna putus asa dari Mu ya Allah, Kau memanggilnya kembali dari kasih sayang Mu, jangan putus asa dari kasih sayang Mu, alangkah indahnya Engkau

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Posted By Bagus Rizki3:23 PM

Pemandangan Yang Indah

Filled under:

قَالَ أَنَسُ ابْنُ مَالِك رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : مَا نَظَرْناَ مَنْظَرًا كاَنَ أَعْجَبَ إِلَيْنَا مِنْ وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

(صحيح البخاري)

Berkata Anas bin Malik Ra : "Kami belum pernah melihat pemandangan yang lebih menakjubkan dari wajah nabi shallallahu 'alaihi wasallam". (Shahih Al Bukhari)


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ...

Limpahan puji kehadirat Allah Yang Maha Luhur, Yang telah menganugerahkan kepada kita anugerah terbesar yaitu iman, dengan perantara manusia yang paling beriman dan seseorang tidak akan mencapai puncak keimanan kecuali dengan mencintai sang pembawa tuntunan keimanan, sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Dijelaskan oleh hujjatul islam wabarakatul anam Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi shahib Simtuddurar, di dalam qasidahnya beliau menjelaskan bagaimana detak-detak jantung yang selalu rindu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sang pembawa keluhuran dari Allah. Ketika beliau ditanya : "apa yang menjadi penyembuh dari penyakit-penyakitmu"?, maka Al Habib Ali menjawab : "obatnya adalah berjumpa dengan kekasihku, dan airmataku selalu mengalir karena rindu dengan kekasihku. Wahai Allah sampai kapankah Engkau biarkan air mata ini mengalir, apakah menunggu sampai air mata darah yang mengalir dari mataku", demikian ucapan hujjatul islam wabarakatul anam shahib Simtuddurar Al Habib Ali Al Habsyi Ar.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Dengan rahasia keluhuran Allah lah kita sampai ke majelis ini, sampailah kita sebagai tamu Allah di istana keridhaan Allah, tidak satupun yang menginjak majelis ini kecuali dijanjikan untuknya pengampunan dan rahmat Allah, yang paling tidak adalah pengampunan Allah subhanahu wata'ala dan lebih dari itu adalah rahmat-Nya yang maha luas. Keberuntungan demi keberuntungan mengalir dalam kehidupan, dan dalam kehidupan ada keberuntungan yang membuka keberuntungan selanjutnya, dan ada pula keberuntungan yang membuka kehinaan, maka selalu lah memohon kepada Sang Pemilik keberuntungan untuk membuka pintu keberuntungan bagi kita yang membuka keberuntungan untuk hari esok di dunia dan akhirah, Dialah (Allah) Yang Maha memilikinya, Dialah Yang Maha melimpahkannya, Dialah Yang Maha membagi-bagikannya sepanjang waktu dan zaman, Dialah Yang Maha berhak memberimu lebih dari apa yang telah disiapkan, Maha mampu memberimu lebih daripada apa yang pantas untukmu, hanya Dialah Yang Maha Tunggal dan Maha Abadi yang mampu melakukannya. Allah subhanahu wata'ala selalu siap memberi lebih dari yang kita minta dan kita harapkan, terbukti dari pemberiannya yang sedemikian banyak tanpa kita memintanya, betapa banyak hajat (kebutuhan) yang diberikan kepada kita tanpa kita memintanya ; jasad kita dan gerakannya, lidah kita dan suaranya, telinga kita dan pendengarannya, penglihatan kita dan pemandangannya, kesemua itu adalah hajat kita dan kita diberinya tanpa meminta, adakah yang lebih baik dari-Nya?!, maka janganlah kecewa jika ada satu atau dua permintaan kita yang belum diijabah oleh Allah subhanahu wata'ala, karena barangkali terdapat rahasia keluhuran yang tersembunyi di balik itu semua.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Allah subhanahu wata'ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(التوبة : 100 )

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar" ( QS. At Taubah: 100)

Semoga aku dan kalian termasuk pengikut mereka, para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kaum Muhajirin dan Anshar, pengikut guru-guru kita dimana mereka mengikuti guru-gurunya sampai kepada Muhajirin dan Anshar, dan hingga sampai kepada imam Muhajirin dan Anshar, sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Bulan Syawwal mengingatkan kita pada suatu kejadian besar, yaitu perang Hunain. Perang Hunain terjadi pada tanggal 6 Syawwal, dalam riwayat lain terjadi pada pertengahan Syawwal dan dalam riwayat lainnya terjadi pada akhir Syawwal, namun yang pasti adalah di bulan Syawwal pada tahun ke-8 H setelah Fath Makkah. Setelah Fath Makkah, Makkah telah ditundukkan tanpa senjata, seluruh patung di Ka'bah dibersihkan tanpa ada lagi pertikaian, kesemuanya telah pasrah kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersama 10.000 muslimin muslimat yang ikut dalam Fath Makkah. Di saat itu seusai Ka'bah dan Makkah dibenahi, ternyata masih ada orang-orang yang belum menerima kenabian nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, mereka adalah kaum Hawazin, di wilayah Hawazin mereka telah mengumpulkan pasukan yang sangat banyak, mereka adalah perpaduan antara kaum Yahudi dan kuffar Quraisy, mereka bersatu di Hawazin untuk menyerang Madinah Al Munawwarah, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak jadi kembali ke Madinah, tetapi setelah Fath Makkah beliau langsung menuju ke Hawazin untuk peperangan di medan Hunain. Adapun jumlah muslimin di saat itu adalah 12.000 orang. Dan Rasulullah diikuti oleh banyak penduduk Makkah yang baru masuk Islam dan banyak juga orang-orang yang masih setengah iman, ada yang baru masuk Islam namun imannya sudah sangat kuat, ada juga yang terpaksa masuk Islam karena khawatir dimusuhi oleh mayoritas kaum muslimin. Di zaman dahulu dalam peperangan ada adabnya, berbeda dengan zaman sekarang. Dahulu meskipun diantara mereka terdapat orang-orang munafik, ada orang-orang musyrik dan orang-orang kafir, namun dalam hal peperangan mereka memiliki peraturan, peraturannya adalah peperangan tidak boleh dimulai kecuali sudah menjelang pagi dan keadaan sudah terang, ketika sudah masuk waktu dhuha maka boleh memulai perang, dan ketika matahari akan terbenam maka peperangan harus dihentikan. Hal itu adalah peraturan yang tidak tertulis dan dipatuhi oleh seluruh dunia di masa itu. Namun di saat itu kaum Hawazin melanggar peraturan ini, karena disaat kaum muslimin baru selesai mengerjakan shalat Subuh dan Rasulullah bersama kaum muslimin masih berada di dalam kemahnya, mereka langsung diserbu oleh pasukan kaum Hawazin, mereka muncul dari balik batu, dari gunung-gunung, dari bukit, dan dari lubang-lubang yang mereka buat, dan mereka menghujani muslimin dengan panah mereka maka kacau balau lah keadaan muslimin di saat itu, mereka kebingungan karena diserang panah yang tidak diketahui dari mana arahnya, entah dari depan, dari belakang, dari kiri atau dari kanan, maka 12.000 kaum muslimin diantara mereka ada yang melarikan diri karena iman mereka lemah, dan ada yang bersembunyi untuk mengetahui dari mana arah panah-panah itu. Maka keadaan di saat itu sangat kacau mereka semua lari dan berpencar, tinggallah Rasulullah bersama beberapa kaum muhajirin dan ahlul bait, diantara mereka sayyidina Abu Bakr As Shiddiq, sayyidina Umar bin Khattab, sayyidina Ali bin Abi Thalib dan sayyidina Abbas bin Abdul Mutthalib, dan dalam riwayat lain juga termasuk juga Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Mutthalib (bukan Abu Sufyan bin Harb, pimpinan Makkah). Kelima orang ini tidak ingin jauh dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, namun diantara muslimin yang lainnya ada yang melarikan diri, ada yang bersembunyi, ada yang kebingungan tidak tau harus berbuat apa, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berseru: "wahai kaum Anshar!", namun belum ada yang menjawab karena kaum Anshar ketika itu pun terpecah belah. Maka Rasulullah pun maju, namun Abu Sufyan bin Harits menahan tali kuda beliau agar beliau tidak maju karena gentingnya keadaan di saat itu dimana serangan panah tidak henti-hentinya, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata:

أَناَ النَّبِيُّ لَا كَذِبَ أَنا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ

"Aku adalah seorang nabi yang tak akan berdusta, akulah putra Abdul Mutthalib"

Yang terkenal sebagai ksatria dan tidak akan lari dari peperangan, maka majulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka Abu Sufyan berteriak melanjutkan seruan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : "Ya ma'syaral Anshar!", kaum Anshar mendengar seruan itu dan menjawab: "Labbaik wasa'daik Ya Rasulullah", maka kaum Anshar pun turun dari atas bukit, maka semangat mereka bersatu kembali setelah melihat Rasulullah maju dalam peperangan, jika Rasulullah mundur maka keadaan 12.000 kaum muslimin akan kacau balau, namun karena Rasulullah maju sendiri maka merekapun kembali bersatu yang akhirnya membawa kemenangan. Dalam kejadian ini terdapat satu hikmah bahwa banyaknya jumlah pasukan belum tentu merupakan suatu kekuatan, banyaknya senjata juga belum tentu merupakan suatu kekuatan, tetapi kekuatan yang hakiki adalah kekuatan yang ada pada ruh dan jiwa, mengandalkan kekuatan Allah subhanahu wata'ala itulah kekuatan yang sebenarnya. Ada sebuah hikayat di zaman Bani Israil, dimana ketika itu ada seorang Rahib (ulama di zaman sekarang) yang berdakwah namun tidak disenangi oleh raja di masa itu, tetapi banyak para pengikut rahib itu. Ketika Rahib itu ditangkap, ribuan pengikutnya pun turun dan menyerang istana Raja, maka Rahib itu dipanggil dari dalam selnya dan diperintah untuk menyuruh para pengikutnya bubar dari istana, maka Rahib itu berkata: "kalian tidak perlu takut dengan mereka, mereka hanyalah buih namun nanti sore akan datang gelombang itulah yang harus kalian risaukan". Maka di sore harinya datanglah seorang pemuda ksatria dengan satu kampaknya ia menghancurkan benteng kerajaan itu, mengacak dan memporak-porandakan semua pasukan sang raja, dialah gelombang itu. Hadirin hadirat, demikian pula Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendidik para sahabat untuk menjadi seperti gelombang bukan menjadi buih, karena buih hanyalah muncul dan terlihat banyak namun tidak memiliki kekuatan yang setelah itu akan hilang, namun berbeda dengan gelombang. Dan terbukti ketika perang Badr bahwa jumlah muslimin sebanyak 313 orang mereka bagaikan gelombang, dan Wali Songo yang sembilan orang itu pun berjiwa gelombang, yang mana mereka datang ke Indonesia dengan damai tanpa ada kerusuhan dan tidak membawa senjata apa pun, mereka datang dan mengajarkan kedamaian, mereka menikah dengan putri-putri raja yang kemudian masuk Islam yang akhirnya Islam tersebar luas ke seluruh pulau Jawa, Papua, Makassar, dan lainnya. Mereka (Wali Songo) adalah gelombang, buah dari perjuangan sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Oleh sebab itu yang kita harapkan dari perjuangan dakwah nabi Muhammad adalah munculnya gelombang, yaitu orang-orang yang mempunyai jiwa yang cinta kepada nabinya, jiwanya selalu berbakti kepada Allah subhanahu wata'ala dimana pun ia berada, baik ia di majelis, di Jakarta, di Amerika dan dimanapun ia berada namun ia telah memiliki jiwa yang kuat, maka ia akan menjadi gelombang yang membuat gelombang lainnya muncul menjadi lebih besar. Maka jadilah gelombang, masing-masing diantara kita harus mempunyai jiwa yang teguh, kita harus tau kemana kehidupan ini akan diarahkan, yang mana arahnya adalah ke kuburan dan tidak ada tujuan lain lagi selain itu. Namun dalam kehidupan tentunya kita akan menghadapi banyak hal yang harus kita lewati dan kita hadapi dengan baik dan secerdik mungkin, jangan sampai kita terjerumus ke dalam perangkap-perangkap kehinaan dan dosa. 14 abad yang silam Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diutus oleh Allah sebagai "rahmatan lil 'alamin" di muka bumi dan gelombang terus sampai ke penjuru di barat dan timur hingga saat ini. Barangkali 10 tahun yang lalu tidak terfikirkan oleh kita akan ada majelis di Monas yang dihadiri lebih dari 1 juta muslimin dan muslimat, namun gelombang dari nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tidak bisa dihentikan, terus muncul dan muncul, ketika hilang ia akan muncul kembali dan begitu seterusnya. Maka haruslah kita jaga jangan sampai menjadi buih yang tidak ada kekuatannya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Diriwayatkan pula ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pulang setelah menang dalam peperangan Hunain. Dan sedemikian liciknya kaum Hawazin untuk mengalahkan sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dalam perang Hunain, sehingga mereka jadikan anak-anak dan istri mereka berada di belakang setiap laskar mereka, yang seharusnya anak-anak dan para wanita diamankan di dalam rumah dan tidak boleh ikut dalam peperangan, supaya mereka yang memerangi kaum muslimin tidak mundur dari peperangan karena dibelakang mereka adalah anak-anak dan istri mereka, begitu liciknya mereka untuk bisa memenangkan peperangan itu. Namun tetap saja kemenangan hanyalah milik Allah subhanahu wata'ala, keadaan disaat itu sedikit kacau namun segera membaik karena gelombang yang sangat kuat dan mempengaruhi yang lainnya yaitu munculnya gelombang yang semakin besar. Maka Rasulullah pulang ke Madinah Al Munawwarah dengan kemenangan. Ketika perang Hunain semua harta, anak-anak dan para wanita dibawa oleh orang kuffar ke peperangan, dan setelah mereka dikalahkan dalam perang itu harta mereka pun ditinggal. Maka ghanimah (rampasan harta perang) itu dibagi-bagikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada kaum Muhajirin, kepada para muallaf (yang baru masuk Islam), kepada penduduk Makkah dan orang-orang yang hijrah dari tempat lain, namun kaum Anshar tidak kebagian ghanimah itu. Mualilah kaum Anshar kasak kusuk, diantara mereka berkata : "ketika Rasulullah dalam keadaan susah maka kami yang dipanggil dan kami yang bertindak, tetapi ketika pembagian ghanimah kami tidak mendapatkan bagian". Maka Rasulullah pun mengumpulkan kaum Anshar (riwayat Shahih Al Bukhari), dan berkata : " aku telah memberikan harta ghanimah kepada kaum muhajirin dan para muallaf, maka mereka pulang dengan membawa harta itu, dan kalian pulang dengan membawa diriku, aku bersama kalian, cukupkah aku untuk kalian?", maka kaum Anshar pun menangis dan berkata: "hasbuka (cukuplah engkau) wahai Rasulullah". Kaum Anshar sangat mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Namun dalam hal ghanimah itu kaum Anshar tidak mendapatkan bagian karena Rasulullah tau bahwa kaum Anshar adalah orang-orang yang mampu, mereka memiliki rumah, pertanian, perkebunan, peternakan dan yang lainnya, sedangkan kaum muhajirin adalah penduduk yang datang dari Makkah dan tidak memiliki apa-apa, dan orang-orang muallaf pun datang dari jauh dan tidak mempunyai keluarga, maka mereka berhak mendapatkan bagian ghanimah itu. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adil dalam pembagian ghanimah itu, dan meskipun kaum Anshar tidak berhak atas harta itu namun Rasulullah tidak berkata: "kaum Anshar kalian tidak berhak atas ghanimah itu karena kalian adalah orang-orang yang mampu", Rasulullah tidak berkata demikian, namun beliau berkata : "wahai kaum Anshar mereka pulang dengan membawa harta, sedangkan kalian pulang dengan membawa diriku, cukupkah diriku untuk kalian"?, demikian bijaksana nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, manusia yang paling indah. Diantara akhlak beliau adalah sangat berlemah lembut namun beliau bukanlah orang yang pengecut. Setelah kejadian perang Hunain, ada seorang badui yang tidak kebagian harta ghanimah, maka rida' (sorban) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang biasa beliau gunakan sebagai sajadah ketika shalat, atau diletakkan di pundaknya itu ditarik oleh badui ini dan berkata: "baiklah, jika engkau tidak lagi mempunyai harta lebih, aku minta ini saja", namun Rasulullah kembali menariknya dan berkata: "ketahuilah sorban ini adalah milikku satu-satunya, dan seandainya aku mempunyai lebih dari satu maka pastilah akan kuberikan untukmu, dan engkau tau bahwa aku bukanlah orang yang pendusta, dan bukanlah orang yang kikir, dan aku bukanlah pengecut", maka badui itu mundur setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Rasulullah : "dan aku bukanlah pengecut". Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah manusia yang paling sempurna dari seluruh makhluk Allah, oleh sebab itu diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, dijelaskan oleh sayyidina Al Barra' Ra :

كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا وَأَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling indah wajahnya dan paling indah akhlaknya"

Akhlak beliau sangat indah dan tidak ada yang lebih indah dari akhlak beliau. Dan kita telah mendengar sebuah riwayat dari sayyidina Anas bin Malik Ra:

مَا نَظَرْناَ مَنْظَرًا كاَنَ أَعْجَبَ إِلَيْنَا مِنْ وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Kami belum pernah melihat pemandangan yang lebih menakjubkan dari wajah nabi shallallahu 'alaihi wasallam"

Wajah orang yang paling khusyu', jiwanya yang selalu hadir bersama Allah, selalu bermunajat kepada Allah, yang berlemah lembut kepada semua manusia baik kawan atau pun lawan, kepada semua hewan dan tumbuhan dan semua makhluk Allah subhanahu wata'ala. Demikian manusia yang paling berhak untuk kita jadikan idola, sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa salah seorang sahabat nabi, sayyidina Abi Jahifah Ra berkata : "ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lewat, para sahabat meraih tangan Rasulullah dan mengusapkan ke wajah mereka, dan aku pun mengikuti perbuatan mereka juga maka kuusapkan tangan Rasulullah di wajahku dan kurasakan tangan beliau begitu menyejukkan wajahku, dan tidak pernah kutemukan kain yang lebih lembut dari telapak tangan beliau". Diriwayatkan oleh sayyidina Anas bin Malik Ra beliau berkata:

مَا مَسَسْتُ حَرِيْرًا وَلَا دِيْبَاجًا أَلْيَنُ مِنْ كَفِّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا شَمِمْتُ رِيحًا قَطُّ أَوْ ‏عَرْفًا ‏ ‏قَطُّ أَطْيَبَ مِنْ رِيحِ أَوْ ‏ ‏عَرْفِ ‏ ‏النَّبِيِّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Aku tidak pernah menyentuh sutera dan pakaian sutera yg lebih lembut daripada telapak tangan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan aku tidak pernah mencium bau yg lebih harum daripada bau Nabi shallallahu 'alaihi wasallam"

Dan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dan lainnya bahwa para sahabat berkata: "tidak pernah kami menemukan wewangian yang lebih wangi dari keringat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam". Secara logika dan ilmiah kita tau bahwa keringat itu keluarnya dari kotoran sel, kalau seandainya sampah-sampah sel yang keluar dari tubuh sang nabi lebih wangi dari minyak wangi, maka sungguh indahnya ciptaan Allah yang satu ini, sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Oleh sebab itu Allah subhanahu wata'ala berfirman :

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

(القلم : 4 )

" Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung" ( QS. Al Qalam: 4)

Dan Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا، وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

(الأحزاب :45-46 )

"Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi" ( QS. Al Ahzab: 45-46)

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سُرَّ اِسْتَنَارَ وَجْهُهُ حَتَّى كَأَنَّ وَجْهَهُ قِطْعَةُ قَمَرٍ

"Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bila gembira wajahnya bercahaya seperti bulan purnama"

Dan di dalam riwayat Al Imam Tirmidzi disebutkan : "seakan-akan matahari dan bulan beredar di wajah beliau shallallahu 'alaihi wasallam", karena indahnya wajah sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Diriwayatkan juga di dalam Shahih Muslim bahwa ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membaca ayat alqur'an (ucapan nabiyullah Ibrahim As):

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

(إبراهيم:36 )

"Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Ibrahim: 36)

Kemudian Rasulullah membaca ayat al qur'an lagi (ucapan nabi Isa As):

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

(المائدة : 118 )

" Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana " ( QS. Al Maidah : 118 )

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya, menangis dan berdoa:

اَللَّهُمَّ أُمَّتِيْ أُمَّتِيْ

"Wahai Allah, tolonglah ummatku, tolonglah ummatku"

Kemudian malaikat Jibril As turun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata: "Wahai Rasul, Allah bertanya apa yang membutmu menangis?" Allah subhanahu wata'ala Maha Tau keadaan beliau- , namun Allah mengutus Jibril As kepada Rasulullah agar beliau mengeluarkan isi hatinya, apa yang menyebabkan beliau menangis. Maka Rasulullah berkata: "Nabi Ibrahim As berlepas diri dari ummatnya yang pendosa, begitu pula nabi Isa As, namun aku tidak bisa begitu saja melepaskan diri dari ummatku yang pendosa, aku tidak mampu mengatakan seperti yang telah diucapkan nabi Ibrahim dan nabi Isa (QS. Ibrahim: 36 dan QS. Al Maaidah: 118)". Maka malaikat Jibril kembali kepada Allah dan Allah subhanahu wata'ala memberi salam kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian malaikat kembali kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, wahai Rasulullah Allah subhanahu wata'ala telah menyampaikan kepadamu:

إِنَّا سَنُرْضِيْكَ فِي أُمَّتِكَ وَلَا نَسُوؤُكَ

" Kami telah meridhoi umat-mu dan tidak akan menyakitimu"

Maka di saat itu tenanglah perasaan nabi shallallahu 'alaihi wasallam, namun sebelum itu beliau menangis karena tidak bisa berlepas diri dari ummatnya yang berdosa, beliau masih infin menyelamatkannya, maka Allah berikan hak syafaat kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam untuk ummatnya yang pendosa, inilah idola kita sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Maka ketika kaum Thaif melempari nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, padahal Rasulullah sangat mampu untuk mengangkat tangannya dan berdoa kepada Allah untuk mencelakakan kaum Thaif, bahkan Allah telah memerintahkan kepada malaikat yang menjaga gunung untuk mengangkat gunung, setiap makhluk dijaga oleh para malaikat, dan manusia dijaga oleh dua malaikat (Raqib dan Atid), paling sedikit dua malaikat yang menjaga manusia, namun jika ia banyak beribadah, akan lebih banyak lagi malaikat yang menjaganya. Maka malaikat yang menjaga gunung berkata kepada Rasulullah: "wahai Rasulullah izinkan aku untuk mengangkat gunung dan kutimpakan di atas Thaif", sebagaimana yang telah Allah perbuat kepada kaum nabi Luth, dimana malaikat Jibril mengangkat gunung dan menjadikan bagian atas berada di bawah dan sebaliknya kemudian menimpakannya pada kaum nabi Luth. Maka Rasulullah berkata: "jangan engkau hukum mereka, aku masih berharap barangkali keturunan-keturunan mereka ada yang mendapatkan hidayah". Apa yang diperbuat oleh kaum Thaif kepada Rasulullah?, ketika Rasulullah berjalan, mereka berbaris di kiri kanan dan terus melempari kaki Rasulullah dengan batu, sehingga kaki Rasulullah berlumuran darah dan beliau terjatuh, mak mereka menyuruh beliau bangun dan berjalan lagi kemudian kembali melempari beliau dengan batu demikian seterusnya yang dilakukan kaum Thaif kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Setelah beliau keluar dari Thaif mereka menyuruh anak-anak untuk mengejar dan melempari beliau dengan batu, seakan-akan anak-anak itu mengejar-ngejar orang gila. Mengapa kaum Thaif berbuat demikian?, karena patung-patung yang mereka sembah berbicara, patung-patung itu dimasuki oleh syaitan, jin dan iblis untuk berbicara bahwa nabi Muhammad adalah pendusta. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengadu kepada Allah dengan mengatakan: "wahai Allah, mengapa Engkau jadikan syaitan dapat mempengaruhi patung-patung itu sehingga bisa berbicara dan mendustakan aku?!", namun Rasulullah hanya berkata : " Wahai Allah kemana lagi aku akan pergi, aku menuju kepada sahabat-sahabatku, mereka dibantai, aku pergi kepada musuh-musuhku, mereka meerangi dan menyiksaku, namun selama Engkau tidak marah kepadaku maka aku tidak peduli apa yang terjadi padaku". Begitu indahnya sang nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahkan beliau berkata : "yang kuharapkan barangkali kelak keturunan mereka mendapatkan hidayah". Subhanallah, Rasulullah masih peduli pada semua yang masih ada di janin musuh-musuhnya barangkali bisa diselamatkan dan mendapatkan hidayah, demikian indahnya idola kita sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Diantara hal yang perlu saya sampaikan juga dari penyampaian-penyampaian yang terakhir adalah masalah qubah kramat Cikini, dan perlu saya perjelas lagi walaupun sudah pernah saya perjelas di beberapa majelis. Masalah qubah Cikini ini ada tiga jenazah yaitu Al Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi yaitu ayah Al Habib Ali Kwitang, dan juga ada istrinya dimana beliau adalah adik dari Raden Shaleh, dan dari pernikahan itu lahirlah Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang, jadi Al Habib Ali bin Abdurrahman adalah keponakan Raden Shaleh. Maka dalam masalah pemindahan makam ini ada 3 hal yang perlu saya jelaskan, yang pertama secara syariah, secara syariah di dalam mazhab Syafi'i ada 18 hal yang membolehkan makam dipindah atau dibongkar, namun tidak satupun yang termasuk dalam hal ini, diantaranya adalah jika makam tidak menghadap ke kiblat maka harus dibongkar dan dihadapkan ke kiblat, begitu juga jika kain kafan yang digunakan adalah hasil curian maka harus dibongkar dan diganti dengan kain kafan yang bukan curian, atau jika yang meninggal adalah pencuri dan menelan barang curiannya dan pemilik barang itu tidak ridha dan meminta barang itu dikembalikan, maka makamnya harus dibongkar. Dan dari ke 18 hal yang memperbolehkan sebuah makam dipindah atau dibongkar, tidak satu pun dari permasalahan pembongkaran ini yang termasuk di dalamnya. Dan meskipun semua ahli waris setuju dalam hal pemindahan namun tidak ada syarat dari 18 hal tersebut, maka pemindahan makam tetap tidak diperbolehkan.

Yang kedua menurut UU Negara kita, yaitu jika ahli waris sepakat maka makam boleh dipindahkan, maka berbeda antara syariat dan UU negara.

Namun ada yang ketiga dan terpenting adalah masalah maslahat, secara maslahat maka antara syariat dan UU sama yaitu tergantung kemaslahatannya, jika maslahatnya makam harus dipindah maka dipindah, dan jika maslahatnya makam tidak dipindah maka makam tidak dipindah.

Jika memperhatikan kemaslahatan terkadang hal yang haram bisa menjadi halal, misalnya ada yang mau meninggal karena kelaparan dan yang ada hanyalah makanan yang haram dan jika tidak dimakan orang itu akan meninggal, maka makanan itu boleh dimakan karena demi kemaslahatan. Jadi tergantung kemaslahatannya, maka masalah ini jika dilihat secara syariat maka tidak boleh dipindah, dan secara UU haruslah kesemua ahli waris sepakat atas pemindahan itu, dan yang terakhir secara kemaslahatan, hal ini harus dirundingkan antara ahli waris, para tokoh setempat dan fihak yang berwajib, dan hal ini sudah diserahkan kepada fihak yang berwajib dan saya juga mengikutinya secara tidak langsung, karena saya tidak mau terjun langsung secara anarkis dan tidak ingin ada pertumpahan darah, karena shahib maqam pun tidak akan ridha jika ada pertumpahan darah yang disebabkan makam beliau. Kita lihat sudah terjadi upaya pemindahan itu namun tidak bisa, berarti Allah tidak menghendaki pemindahan itu. Jika terjadi rencana pemindahan lagi apa yang harus kita perbuat?, jauhilah pertikaian, boleh kita mengamankan namun tanpa ada pertikaian apalagi sampai mengatasnamakan Majelis Rasulullah. Perjuangan dakwah kita ini untuk jangka panjang, untuk anak-anak kita, cucu-cucu kita, maka jagalah jangan sampai kita hancurkan. Semoga aku dan kalian menjadi gelombang dalam dakwah sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Demikian yang ingin saya sampaikan, dan saya mohon doa semestinya malam ini saya berangkat menghadap guru mulia ke Yaman, namun beliau belum memberi jawaban. Jika besok beliau izinkan maka saya akan berangkat besok malam di jam yang sama 00.40 Wib, tetapi insyaallah hari Kamis atau Jum'at sudah kembali ke Jakarta. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada beliau, namun belum ada lampu hijau dari beliau tetapi tidak ada larangan untuk menghadap hanya saja menunggu waktu yang tepat untuk mengunjungi beliau, maka saya belum bisa pastikan kapan saya berangkat karena menunggu instruksi dari beliau. Jika ini menjadi kemaslahatan semoga dimudahkan dan segera diberangkatkan oleh Allah subhanahu wata'ala dan kembali ke Jakarta dengan selamat. Semoga Allah pilihkan yang terbaik.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita berdoa dan bermunajat kepada Allah, agar Allah tidak menyisakan dosa-dosa kita, dosa orang tua kita, semoga Allah memberi semua hajat kita baik yang kita ketahui dan tidak kita ketahui, semua hajat kita di dunia dan di akhirah, semoga kemikmatan ditambah dengan kenikmatan yang lebih besar. Rabbi, semua keputusan akan kenikmatan untuk kami di dunia dan akhirah tambahkanlah, dan semua keputusan akan musibah yang akan datang untuk kami hilangkanlah dan gantikan dengan kenikmatan. Rabbi, inilah harapan dan doa, inilah permohonan dari hamba-hamba pendosa yang lemah yang penuh dengan harapan, dan Engkau tidak akan mengecewakan para pendoa dan para pengemis kepada-Mu karena Engkaulah Yang Maha Dermawan dan Maha Memberi…

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ... مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Hadirin hadirat, jika Nabi Muhammad tidak mau berlepas diri dari ummatnya yang pendosa, maka janganlah kita berlepas diri dari nabi kita, selalulah ingin bersama beliau. Selanjutnya kita mohonkan kepada Ad Daa'i ilallah Al Habib Ibrahim Aidid untuk memimpin kita membaca qasidah Ya Arhamarrahimin untuk mendoakan kaum muslimin muslimat dan mengingatkan kita kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian kalimat talqin oleh Al Habib Abdurrahman Al Habsyi, falyatafaddhal…

Posted By Bagus Rizki2:59 PM